Dari gelagatmu, kau tampak segar dan tenang. Wajahmu berlinang cahaya yang memendar ke mana-mana. Sejuk dapat kurasakan ketika melihatmu sebahagia ini. Apakah dengan kebahagiaan yang kau tampakkan di acara ulang tahun anak kita sudah siap untuk dilaksanakan, istriku?
“Syukurlah, hampir semua persiapan sudah selesai, tinggal menentukan siapa yang akan memimpin acara ulang tahun untuk Fatimah. Semoga anakku menjadi anak yang salehah dan taat pada orang tua, amin!” ucapmu waktu itu. Lebih dari itu istriku, aku berharap Fatimah menjadi orang yang paling disegani di negeri ini. Bahkan mari kita doakan anak kita agar bisa lebih melampaui harapan kita.

Sehabis harapmu itu, kau terlihat bersiap-siap untuk pergi ke rumah Kiai Syamsuddin, guru ngaji anak kita. Tak lupa pula bawa beras dan minyak tanah untuk sekadar ole-ole untuk Kiai Syamsuddin. Di matamu yang teduh, aku melihatmu berharap penuh agar Kiai Syamsuddin bersedia memimpin acara ulang tahun untuk anak kita. Semoga saja, harapku istriku.
“Begini, Kiai. Saya mau adakan acara selamatan kecil-kecilan di hari ulang tahun anak saya, Fatimah. Saya harap njenengan mau memimpin acara ulang tahun ini,” pintamu pada guru ngaji anak kita itu.
“Oh Fatimah anakmu itu? Baik, kapan akan dilaksanakan acara ulang tahunnya?” jawab Kiai Syamsuddin waktu itu. Kau mengangguk-angguk tanda meng-iyakan pertanyaan Kiai Syamsuddin sambil menjawab waktu pelaksanaan acara ulang tahun itu. Kau juga tidak lupa meminta Kai Syamsuddin untuk membacakan surat Yasin saja. “Tak banyak yang saya undang, Kiai, hanya acara keluarga,” ucapmu pada Kiai Syamsuddin. Dan Kiai Syamsuddin memaklumi ucapanmu dengan mengangguk-angguk meniru tingkahmu.
Aku senang, istriku. Aku tak bisa meluapkan kebahagian ketika keinginan anak kita sudah hampir terkabul. Terima kasih juga, istriku, berkat usahamu, anak kita akan didoakan agar menjadi anak yang bermanfaat kelak. Semoga terkabul.
***
Lihat itu istriku, di saat matahari tampak mengungguli kepala, keluarga-keluarga jauh kita sudah banyak yang datang. Mereka rela datang meskipun bertaruh dengan terik matahari. Mereka datang dengan membawa senyum yang pekat dengan keindahan, istriku. Lihat itu juga, istriku, pamanmu yang dari Jawa datang memenuhi undanganmu tempo hari. Keluarga-keluarga besar kita sudah berkumpul istriku.
Segeralah mulai acara ulang tahun untuk anak kita. Aku sudah tak sabar istriku. Tapi, tunggu! Mana anakku, Fatimah. Dengan sigap dan pengertianmu, kau bawa Fatimah keluar dari rumah dan kau dudukkan di dekat guru ngajinya. Aku bangga melihatnya, istriku, dia merupakan paduan kita. Sikapnya yang lembut mencerminkan sikapmu, istriku. Dengan balutan baju batik yang kubelikan tempo hari, Fatimah sangat cantik. Segera mulailah acara ulang tahunnya, istriku. Aku sudah tak sabar sekali!
Mula-mula Kiai Syamsuddin memulai dengan pembacaan Al-Fatihah untuk Nabi Muhammad dan ulama-ulama dahulu. Lepas itu, tak lupa Kiai Syamsuddin berbuat demikian untuk anak kita. Duh, aku kelewat senang istriku. Bacaan surat Yasin tergaung ke segala penjuru rumah kita, ke kamar tidur, ke dapur, ke halaman, ke belakang, dan ke tetangga. Lihat anak kita itu istriku, dia ikut khusyuk membaca surat Yasin untuk dirinya sendiri. Para anggota keluarga besar kita semua ikut tertunduk membacakan hal yang sama untuk anak kita.
Pada suasana khidmat pembacaan surat Yasin itu, aku melihatmu sengaja menahan air mata agar tidak jatuh, menahan diri supaya tak tampak rapuh. Apakah kau tak bahagia setelah acara ulang tahun untuk anak kita sukses tergelar? Pantasnya kau bangga, istriku. Kau sudah menjadi ibu yang baik bagi anak kita, Fatimah. Lihat anak kita itu, dia menunduk, mengamini doa Kiai Syamsuddin untuk dirinya. Lihat keluarga besar kita istriku. Mereka semua mengamini harapan-harapan kita.
“Andai saja Mas… andaikan saja Mas masih hidup dan menyaksikan ini semua,” ucapmu lirih dan tertahan.
