KAU INGIN WAJAH SEPERTI APA
*Pertanyaan Retorik; Puisi Setelah Perayaan Hari Pers Nasional
I

Setiap hari adalah perjalanan menemukan kemujuran, komedi, hingga tragedi
Hingar bingar isu menjadi sekumpulan resiprositas alami
untuk menjadi transparan dengan hati-hati.
Kebenaran selalu tujuan; oksigen yang dihidupi
oleh basis data dan analisis informasi.
kemarin aku bertemu sekumpulan orang menuju kebenaran
yang mulai kehilangan arah
sebut saja mereka jurnalis
yang di tangannya
—saksi segala peristiwa.
II
Berkejaran dengan waktu, menyingkirkan ketakutan
—adalah keberanian
Merawat waktu
pejuang berangkat dini hari
pulang larut malam
babak belur dihajar kantuk
Sisanya—kebenaran dan pencitraan menjadi topik paling ambigu untuk diputuskan.
III
Sederet tulisan, dengar letusan-letusan teror di kepalaku
berkejaran dengan waktu
yang berkompetisi di ruang dadaku.
—tiba-tiba aku bertanya wujud kebenaran ketika yang ingin didengar harus sesuai kepentingan.
Lalu siapa yang paling berkepentingan?
IV
Aku gemetar membaca deretan informasi,
sebab berarti aku membaca garis tangan pembuatnya—berarti menebak arah langkah
kepentingannya.
Dan bila sesekali
serasa terdengar gertak kemarahan
jurnalis sedang terbaring sakit
diimpit kebenaran dan kepentingan penguasa

terlepas dari tema puisi yang diangkat juga terlepas dari keindahan semua puisi-puisinya, yang indah dalam arti (diksi, rima, dan intonasi bila dibaca). Aku justru menyukai pemilihan diksi ini:
;sebut saja ia rindu
yang beranak pinak setiap waktu.
terlebiih saat dipasangkan, persis setelah aku lirik menggambarkan kenangan dan air mata. keren.