II
Selain Alif-Nya, juga kusebut Alif-mu
Alif kubaca
getar semestaku
Tidakkah kau bertanya dari mana goncangan itu berasal?
Dari dadaku
yang rindu bergemuruh
yang debar menyeluruh

Aku yang menggila
Alifmu menancap hebat dalam dada.
III
Aku masih bingung mana yang lebih egois
pelukmu yang kudekap,
lalu titik.
;atau ingatan tentangmu yang padaku
selalu berwujud tanda seru
di antara seru dan titik,
bukankah tak ada lagi tawar-menawar?
IV
Air mata yang mengalir
adalah mata air yang juga menghidupi
benih di dadaku
yang kadang resah
di kepalaku
yang kadang rusuh.
; sebut saja ia rindu
yang beranak pinak setiap waktu.
V
Alif di dalam dadaku kerap
berwujud doa yang merahasiakan diri
dengan air matanya
di hadapan mulut yang mengucapkannya.
Atas nama segala abjad yang pernah terucap
aku bersumpah Alifmu yang telah menikam
paling dalam.
Atas sumpahku, bertanggung jawablah untuk setumpuk rindu yang terus menggunung
kusodorkan tepat di depan pintu rumahmu.
Bukalah,
Terima ia sebagai semestamu.
Selain Alif-Nya, (juga) Kusebut Alif-mu
; Alif-Nya yang tegak dimana-mana
; Alif-mu rumah di semestaku.

terlepas dari tema puisi yang diangkat juga terlepas dari keindahan semua puisi-puisinya, yang indah dalam arti (diksi, rima, dan intonasi bila dibaca). Aku justru menyukai pemilihan diksi ini:
;sebut saja ia rindu
yang beranak pinak setiap waktu.
terlebiih saat dipasangkan, persis setelah aku lirik menggambarkan kenangan dan air mata. keren.