Setelah semua murid menerima rapor, Bu Rere mulai mengumumkan rangking siswa, dimulai dari rangking terbawah. Di situlah suasana seantero kelas mulai tegang. Begitu juga dengan Rhafisqy. Ia adalah anak yang paling gelisah di antara teman-temanya yang lain. Setelah mengumumkan rangking siswa-siswi, Bu Rere beranjak pergi meninggalkan kelas. Tak lupa Bu Rere juga mengucapkan selamat kepada anak yang berhasil menjadi juara kelas. Anak-anak mulai riuh, ada yang memberi selamat kepada temannya, ada pula yang malah meledek.
“Selamat ya Rhaf, dapat juara tiga…,” tiba-tiba Reza datang menghampiri Rhafisqy. Suara Reza itu sedikit membuatnya kaget.

“Huffttt… Dapat juara tiga saja diucapin selamat, Za,” sahut Rhafisqy dengan wajah cemberut.
“Rhaff, harusnya kamu itu bersyukur. Mungkin memang ini yang terbaik untuk kamu. Apalagi, kan, kamu juga habis kecelakaan. Sekarang itu yang penting kepala kamu sudah nggak kenapa-napa, sudahlah brooo, disyukuri saja…,” ujar Reza untuk menyemangati.
“Yaa kalau soal kecelakaan memang sangat berpengaruh pada ingatanku, tapi gimana lagi, Za,” ucap Rhafisqy sambil mendengus kesal. Tiba-tiba Rayyan datang dan ikut bergabung dalam obrolan itu.
“Rhafisqy, seharusnya kamu itu bersyukur banget, nggak malah frustrasi seperti ini. Asal kamu tahu, takdirmu tidak seburuk takdir kakak perempuanku. Dia dulu juga sekolah di sini, tapi sekarang sudah di Jerman. Dia selalu menjadi juara kelas. Dia selalu disayang sama guru-guru. Tapi sekarang sudah beda. Sudah berubah semuanya. Sekarang dia hanya tergelatak di ranjang rumah sakit,” ucap Rayyan setelah mendengar keluhan-keluhan Rhafisqy.
“Berkacalah pada Teresha, Rhaf. Dia gadis yang mudah mensyukuri nikmat. Banyak cobaan dalam hidupnya, tapi lihatlah, dia tetap enjoy,” ceramah Rayyan lagi.
Sekarang Rhafisqy sedang duduk sambil mengamati nilai-nilai yang tertera di lembaran rapornya. Meskipun sudah mulai menerima nilai yang didapatkannya, tapi ia masih memendam rasa kecewa. Rhafisqy mulai sadar bahwa sebenarnya dia adalah anak yang sangat beruntung mendapatkan teman-teman yang sangat perhatian kepadanya, dan tak segan-segan untuk memberikan saran agar ia tidak terlelap dalam kesedihan.
Ia kemudian teringat pada sosok Teresha, salah satu temannya yang sering dirundung kesedihan itu. Rabu, 22 Mei 2018. Sekitar dua tahun yang lalu, tragedi kecelakaan lalu lintas menimpa seorang gadis penyandang penyakit kanker stadium 2 itu. Kecelakaan tersebut tidak memakan nyawanya, tapi sebagai gantinya ia mengambil kaki kiri gadis tersebut. Gadis itu bernama Reteresha Panemorfi. Seperti namanya yang dalam bahasa Yunani “Panemorfi” memiliki arti cantik, memang benar dia sangat cantik, tapi sayang tidak memiliki mahkota benang sutera di kepalanya layaknya gadis-gadis lainya. Selain cantik, dulu dia adalah anak yang berprestasi, selalu menjadi juara kelas. Betapa malangnya dia, masa-masa gemilang itu kini hanya menyisakan cerita.
“Ya Tuhan, aku adalah anak tunggal di dalam keluargaku, seharusnya aku memperjuangkan yang terbaik agar orangtuaku merasa bahagia, tapi mengapa engkau tidak mengizinkannya Tuhan,” ucap Rhafisqy lirih pada dirinya sendiri.
“Sebenarnya aku iri sama kamu, Teresha. Kamu terlihat riang meskipun divonis penyakit kanker stadium 2, tapi kenapa aku tidak bisa bahagia ketika aku mendapat rangking tiga? Apalagi, kan, rangkingku turun ada penyebabnya utamanya, bukan karena aku malas belajar, tapi karena kecelakaan pada hari itu. Sejak saat itu daya ingatku mulai melemah. Tapi mengapa aku tidak bisa merasakan kebahagiaan meskipun aku mendapat peringkat 3 di kelas, mengapa kamu bisa bahagia dengan rangking yang kau dapatkan?”
Suasana batin Rhafisqy semakin berkecamuk.
Rayyan dan Reza memandangi Rhafisqy yang kini berwajah murung.
“Pokonya yang terpenting, Tuhan telah memberikan kebahagiaan kepada hidup kita. Dan ingat bahwa Tuhan memberikan kebahagiaan dan kesedihan kepada setiap manusia itu dengan porsi yang berbeda-beda. Mungkin kamu saat ini frustrasi, Rhaf, dengan pencapaian kamu. Tapi jangan terlalu dibuat sedih. Intinya disyukuri saja, memang frekuensi kebahagiaan kita tak sama. Kesedihan kita juga beda. Kepintaran kita juga beda. Orang tua kita juga beda. Pokoknya beda semua, deh,” Rayyan kembali berceramah.
