“Yan, memangnya kamu ke sini cuman mau ngomong itu ya?” sahut Rhafisqy.
“Yup! Hati yang jarang menerima siraman rohani akan mengeras, Rhaf. Ha-ha-ha. Apa bakat ceramahnku sudah semakin tampak?”

“Huft. Aku cuma terngiang-ngiang oleh mimpi burukku semalam… ,” Rhafisqy menceritakan mimpi tentang nilai buruknya dengan panjang lebar.
“Lah cuma mimpi doang dipikirin. Dasar kamu itu, ahhh. Yang penting kamu itu harus semangat biar bisa jadi bintang kelas lagi baby. Oke?” jawab Reza sambil mengusap-usap bahu Rhafisqy, berusaha untuk menenangkan dan menyemangatinya.
“OK, terima kasih. Apalagi aku juga bersyukur, karena mimpi itu nggak jadi kenyataan,” ucap Rhafisqy sambil sesekali mendengus kesal. “Sekali lagi makasih ceramahanya pak haji,” ucap Rhafisqy dengan sedikit tertawa.
“Iyaa. Dan untuk kamu Rhafisqy, Tuhan memberikan kehidupan yang indah untukmu. Tuhan memberikan kepintaran tanpa meminta kembali nikmat lain yang diberikan-Nya. Kamu hanya divonis bahwa daya ingatmu melemah sementara, bukan permanen. Belajarlah dari kisah hidup Teresha itu.” ucap Rayyan lagi.
“Iya, aku mengerti. Semuanya milik Tuhan,” jawab Rhafisqy dengan perasaan sedih sekaligus senang karena pemikirannya telah disadarkan oleh temannya.
“He-em, iya-iyaa,” ucap Rhafisqy sambil sedikit memicingkan matanya pada Reza.
“Haii, kamu kenapa?” Rayyan bertanya sambil memegang pundak Rhafisqy.
“Enggak aku nggak nangis,” jawab Rhafisqy dengan nada meyakinkan.
“Baperan banget kamu, Rhaf,” ucap Reza sambil mengusap bahu Rhafisqy.
“Eehhh… Enggak usah nangis juga kali. Aku tahu Rhaf, mungkin kamu itu bersedih karena terlalu memberatkan tanggung jawab kamu sebagai anak tunggal, tapi beda dengan aku, aku sih juga ngarep buat berprestasi seperti kamu, tapi ya gimana lagi. Otakku tak se-encer kamu,” ujar Reza untuk menjawab curahan isi hati Rhafisqy.
“ Aku juga tidak tahu kalau semisal rangking yang aku dapatkan kali ini, mungkin akan berubah di kemudian hari, semuanya aku serahkan kepada yang Maha Kuasa. Kita hanya tinggal bermain cilukba dengan takdir,” ujar Rayyan untuk menyahuti perkataan si Rhafisqy. Setelah itu ia pergi keluar kelas meninggalkan Rhafisqy dan Reza.
ilustrasi: kompasiana.
