Kebangkitan Nasional Versi Santri Digital

Content creator berbasis pesantren harus hadir, bukan sekadar viral tapi mendidik. Mereka harus menciptakan konten yang mengangkat isu-isu kebangsaan, moderasi beragama, toleransi, dan keadaban publik. Inilah bentuk baru nasionalisme digital: mengisi ruang maya dengan gagasan dan nilai, bukan provokasi dan kebencian.

Kekuatan santri ada pada kedalaman ilmu dan kekayaan spiritualitas. Budaya ngaji, adab kepada guru, dan etika berpikir adalah fondasi kokoh yang bisa menjadi penawar dari kebisingan digital yang tak terarah. Jika ini dikombinasikan dengan keterampilan teknologi dan komunikasi massa, santri bisa menjadi figur penting dalam memproduksi narasi yang sehat dan inklusif.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tokoh-tokoh seperti KH Mustofa Bisri dan Gus Baha, misalnya, telah memberi contoh bahwa pesan-pesan agama bisa disampaikan dengan lembut, cerdas, dan penuh humor di ruang digital. Inilah bentuk dakwah yang kontekstual dan dibutuhkan generasi hari ini.

Tentu kebangkitan digital santri tidak terjadi secara instan. Diperlukan strategi dan kolaborasi. Pesantren sebagai institusi harus membuka diri terhadap pelatihan media digital, literasi informasi, hingga keterampilan public speaking.

Pemerintah pun perlu mendukung dengan kebijakan afirmatif, pelatihan kreatif, dan penyediaan akses internet yang merata. Tanpa dukungan struktural, potensi besar ini bisa terkubur.

Tinggalkan Balasan