Kekasih Serigala

“Tunggu,” Ami menarik tangannya dan berhenti. “Jawab dulu pertanyaanku.”

“Sebaiknya kita pergi sebelum macan memakan kita.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mereka berlari ke barat, jauh, dan amat jauh seolah mereka sedang memburu senja yang tidak lagi terlihat. Langit semburat merah, hutan bernyanyi tentang kesunyian, tepak kaki bersahutan cepat, cahaya pijar berkelap-kelip di kejauhan. Mereka berhenti di depan gubuk.

“Duduklah. Di sini lebih aman dari desa.”

“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?” Ami duduk namun matanya menegang. “Jangan-jangan benar apa yang dibilang Ustaz Mamad.”

“Tenanglah dulu. Kita baru saja bertemu setelah lama kau menghindar dariku.”

“Siapa kau sebenarnya?” desak Ami. Tapi, Amat ingin tahu alasannya menjauh.

“Kenapa kau menghindar dariku, Mi?” Mereka saling tatap, sebuah garis merah memenuhi matanya dan kerut di kening serupa jalan rusak.

“Jelaskan dulu siapa kau sebenarnya?” Ami bangkit dan memunggungi Amat.

“Kau benar-benar sudah dipengaruhi warga. Kau bukan lagi Ami yang kukenal.”

Berceritalah Amat tentang kematian:

Pada masa Orde Baru, sepasang kekasih telah melakukan hubungan haram di ladang milik keluarga si perempuan. Mereka ditemukan bertelanjang di semak-semak kebun jagung. Buruh tani yang pertama kali yang menemukannya segera memukul mereka dengan batang bambu. Mereka terkejut dan segera berpakaian. Namun, mereka telah tertangkap basah dan warga sudah menyeret mereka keliling kampung. Seluruh warga melemparkan telur busuk atau lumpur pada wajah mereka. Desa itu menjadi ganas ketika seorang ingin membakarnya.

Peristiwa semacam itu sering kali terjadi. Di kota-kota lebih parah lagi. Namun, karena di sana uang bisa menutupi lubang mulut yang bocor. Tidak ada berita pemerkosaan atau hubungan intim di gang-gang yang gelap.

Tinggalkan Balasan