Kekasih Serigala

Suasana menjadi lebih tenang ketika Pak RT dan orang tua mereka datang. Biarkanlah mereka hidup, mereka juga manusia seperti kita. Tapi, biarlah mereka menebus dosa dengan cara lain. Janganlah menghakimi sendiri. Kata seorang Ibu sambil menangis memandang anak perempuannya yang cantik berlumuran lumpur dan berbau busuk.

“Tahukah kau siapa sepasang kekasih itu?” Ami menggeleng.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah disepakati oleh warga. Mereka tidak boleh lagi menginjak tanah ini walau pun saat lebaran, mereka hanya akan tinggal di dasar hutan. Maka, sore itu mereka diantar oleh ayah-ibu mereka ke hutan. Hutan yang sering dibicarakan banyak orang tentang keganasan binatang buas, tentang kematian yang terus memakan korban.

Mereka pun tinggal di sana. Membangun rumah kecil beratap jerami dan berdinding bambu, serta beralas kain batik. O, betapa hidup di hutan menyenangkan? Tidak ada manusia mengusik mereka, undang-undang empat lima hanya berlaku di desa. Mereka hidup bersama hewan-hewan dan berlaku sebagaimana hewan lakukan. Kera yang manis menyuapi pisang pada kekasihnya. Singa yang gagah mendekap kekasihnya dengan hangat. Elang dan gagak berterbangan mengitari mangsa.
Tidak ada yang lebih akrab dari tinggal di hutan.

Waktu terus bergulir, sepasang kekasih yang tinggal di hutan sudah berumur satu tahun. Mereka akan menjadi seorang bapak dan ibu. Sang istri sedang mengandung dan hanya menunggu hitungan hari bayi itu akan keluar. Yang menjadi soal adalah: di hutan tidak ada tenaga medis atau dukun yang bisa membantu istrinya melahirkan. Sedangkan mereka tidak boleh kembali ke desa.

Suatu malam terdengar bren meletuskan tembakan. Salakan anjing, aungan serigala, dan jeritan kera memenuhi malam-malam itu. Mereka tidak bisa tidur sepanjang malam. Pemburu telah kembali menjajah hutan. Mereka memikirkan nasib hewan-hewan di hutan. Kera-kera yang manis dan singa yang gagah itu. Apa kalian baik-baik saja.

Setelah sempat hening beberap jam. Mereka akhirnya terlelap. Sangat lelap sampai tak mendengar suara ketukan pintu. Kera-kera menaiki atap rumahnya dan bergelayutan di sana-sini. Satu kera kecil masuk lewat jendela yang terbuka. Membuka pintu dari dalam dan singa yang gagah—yang selalu dipuja oleh mereka mengaungmengagetkan mereka yang tertidur lelap. Satu-dua ekor singa berlompatan ke arah si lelaki, mencakar hingga darah memenuhi wajahnya. Sang istri menjerit ketakutan, kera-kera yang manis telah melukai kekasihnya. Ia melemparkan batang bambu pada kera. Mereka meloncat dan hinggap di bambu itu.

Singa yang gagah merangkul, mencakar, dan menggigit leher si lelaki. Dia tidak dapat bergerak lagi setelah mendorong sang istri pergi. Kera-kera yang manis mengikuti sang istri pergi. Tapi tidak lama mereka kembali ke rumahnya. Sang istri tidak tahu harus berbuat apa selain menyelamatkan anaknya. Ia yakin, tidak lama lagi singa itu akan mencakar lehernya sampai berlubang.

Entah mengapa ia menjadi tidak yakin yang terjadi malam itu. Ia kembali ke rumahnya dan segumpal pertanyaan mengapung. Mengapa mereka menyerang kita? Kera-kera yang manis dan singa yang gagah berubah menjadi monster raksasa yang haus darah. Apakah kita pernah menyakiti mereka? Pertanyaan itu terus saja berulang dan tidak mau hilang.

Ia temukan suaminya terkapar dengan kepala berlumuran darah. Ia seret suaminya ke luar rumah. Ia akan membawa suaminya ke perbatasan hutan. Di sana pasti ada orang, pikirnya dan mereka akan menolong nyawa suaminya.

Tapi Tuhan berkata lain. Sang istri mati setelah melahirkan anaknya. Orok menangis di selangkangan, seokor serigala datang membawa si orok. Dan aungan serigala terdengar sepenjuru hutan.

“Apakah kau sudah tahu siapa suami istri yang tinggal di hutan?” Ami menggeleng.

“Percayakah kau bahwa orok itu adalah aku?” Ami terperanjat lantas kembali duduk di samping Amat dengan wajah muram penuh penyesalan.

Tinggalkan Balasan