Kemandirian Ekonomi Santri: Sebuah Otokritik

Sebagai orang yang dari kecil tumbuh di lingkungan pesantren, penulis mengamini permisalan tersebut. Keluarga santri atau yang tersantrikan umumnya memang tidak memiliki konsep yang jelas mengenai pekerjaan. Hal tersebut, lagi-lagi, karena pengaruh doktrin yang berkembang di pesantren.

Fakta di lapangan mengungkap bahwa tidak mungkin semua santri pulang menjadi kiai. Doktrin yang penting mengaji, mungkin masih relevan bagi mereka yang anak-anak kiai, yang memang dikader menjadi penerus perjuangan agama orang tuanya. Tetapi tidak untuk santri secara keseluruhan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Doktrin dengan kalimat yang penting mengaji, seakan memberi pengertian bahwa hal lain tidak atau kurang penting. Padahal, kehidupan memiliki berbagai aspek kompleks yang harus dipikirkan baik-baik, termasuk ekonomi.

Umumnya para santri yang tersisih dari lapangan pekerjaan, khususnya yang tidak memiliki ijazah formal, akan memilih berwirausaha tanpa dasar ilmu praktis. Hal inilah yang membuat mereka sulit berkembang, stuck, dan akhirnya hidup di bawah kata layak.

Kesuksesan santri salaf dalam mengembangkan ekonomi sebagai entrepreneurship umumnya tak lepas dari latar belakang keluarga. Artinya, terdapat semacam pengkondisian dalam suasana keluarga. Jika seperti ini, maka keluarga entrepreneur yang bukan lulusan pesantren pun mempunyai potensi yang sama untuk menjadi pengusaha (Nurcholish Madjid, 1997)

Hal tersebut menjadi salah satu penyebab kelesuan atau kemandekan ekonomi dalam tubuh Islam, yang menurut hemat penulis berasal dari kekeliruan paradigma pengajaran di pesantren.

Pesantren Dulu vs Sekarang

Hal yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa orientasi pesantren dulu dan sekarang sudah berbeda. Dulu, mungkin orang-orang yang masuk pesantren memang terdorong oleh motivasi untuk mendalami dan mengabdikan diri kepada ilmu agama. Kini, pesantren lebih cenderung menjadi tempat pembentukan karakter dan soft skill atau nilai-nilai kebaikan universal, seperti kejujuran, sopan-santun, keadilan, tanggung jawab, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan