Seseorang yang demikian bukan berarti anti terhadap dunia. Bukan. Akan tetapi, ia adalah mukmin sejati yang benar-benar telah sanggup menggelola dunia dan dirinya. Dunia difungsikan sebagaimana mestinya dan dirinya, nafsunya, dikendalikan dengan sebaik-baiknya sehingga yang ada adalah kebaikan dan rahmat bagi alam semesta. Ketika seorang mukmin telah sampai pada fase ini, kematian bukan lagi menakutkan baginya. Justru, kematian akan semakin ia rindukan. Sebab dengan itu ia bisa melunasi dendam rindunya pada Tuhannya.
Tersebut dalam tradisi sufi, kematian diistilahkan sebagai malam pengantin. Malam perjumpaan seorang pecinta dengan kekasihnya. Konon Maulana Rumi bahkan berpesan, bagi siapa pun yang berkunjung ke makamnya untuk jangan lupa membawa genderang, sebab kata Maulana, dalam perjamuan Tuhan, seseorang yang berduka tidak diberi tempat. Tentu membawa genderang di sini bukan dalam makna denotatif. Itu hanyalah metafor bagi suatu perasaan yang harus gembira. Sebab, seorang hamba sedang dijamu oleh Tuhannya dalam kasih sayang yang sesungguhnya, maka tak sepatutnya bagi orang lain untuk menangis.

Pecinta adalah hamba dan kekasih adalah Tuhan. Betapa kematian sangat dirindukan oleh para salik. Sebab, hanya dengan kematian ia bisa dekat dengan Tuhannya. Tak terpisahkan lagi. Kembali pada tempat asalnya.
