“Kenapa kau berkelahi dengan Kang Ramin?” tanyanya memicu emosiku.
“Aku sudah tak bisa lagi membiarkan ulahmu, Karbini. Kau coreng namaku dengan menindas rakyatku!” tegas aku berbicara.

“O, jadi kau menuduhku sebagai biang keladi dari sapi keracunan itu?”
“Bukan menuduh, tapi menguak sebuah fakta keji seorang calon kepala desa yang rela mengorbakan rakyat kecil demi mendulang kemenangan!”
Karbini tertawa. “Lepaskan dulu Kang Ramin, dia buru-buru, sudah ditunggu istrinya yang hendak melahirkan.”
Akhirnya kulepaskan juga si Ramin.
“Aku siap menjadi saksimu Pak Karbini, kau orang yang baik, telah menolong kami orang kecil ini. Asal kau tahu, Pak Dasuki, Pak Karbini ini telah membantu banyak orang sakit, dan dengan doanya, banyak kesulitan hidup telah terurai. Kau bisa tanyakan kebenarannya pada orang-orang,” bela Ramin.
Kurebut kresek hitam yang ada di tangannya. Setelah kubuka ternyata botol minuman.
“Berikan botol itu pada Kang Ramin. Dan kau pulanglah Pak Das, sebelum kupermalukan kau di depan umum,” perintah Karbini.
Kuberikan botol itu pada Karbini. “Minumlah minuman doamu ini jika memang benar bukan racun sapi,” pintaku.
Karbini segera menenggak air dalam botol itu hingga beberapa tegukan. “Pulanglah Pak Dasuki. Kau telah dihasut orang-orang di sekelilingmu. Aku tak mengira kau telah berpikiran seperti ini. Akan kututup kejadian ini jika kau menghentikan tuduhanmu, jika tidak, akan kubawa kau ke kantor polisi dengan dalih pencemaran nama baik, paham?”
Aku tertawa. “Beberapa orangku telah melihat dirimu berjalan di kegelapan malam ketika peristiwa keracunan sapi itu terjadi, apa kau masih mau mengelak? Kau racuni sapi wargaku dan kau berharap namamu akan unggul di pilihan kepala desa nanti, keji sekali kau Karbini!”
“Sekarang maumu apa?” tanya Karbini.
“Hentikan tindakan bejatmu!” bentakku.
“Kau yang bejat!”
Kucabut belati di pinggangku, dan secepat kilat kuhunuskan ke lambungnya. Dalam posisi yang sedang tidak siap, Pak Karbini kemudian jatuh terkapar. Masih sempat kudengar desisan rintihannya sebelum kemudian kutinggal pergi membawa kemenangan.
Selagi melangkah pulang terdengarlah bisikan di telingaku, “Kau pembunuh, Dasuki!”
Keesokan harinya ramai tersiar kabar kematian Pak Karbini Kepala Dusun Gondang Rojo yang katanya sering dimintai jampi-jampi orang di sekitarnya. Anehnya, hari-hari setelahnya masih sering pula terdengar kabar adanya sapi keracunan. Dan keningku berkerut penuh tanda tanya ketika suatu sore beberapa orang dekatku datang ke rumah, dan di belakangnya beberapa orang polisi berjalan mengikuti. Dengan tanpa banyak kata mereka memborgolku, aku segera didera ketakutan yang sangat. Kemudian mereka mengatakan bahwa aku ditangkap karena melakukan pembunuhan. Tubuhku terasa lemas seketika. Duniaku terasa hancur dalam pekatnya kegelapan pikiranku.
Bantur, 17 Juni 2021.
