Hari Ibu harus dijadikan pelecut bagi kita semua untuk lebih memperhatikan ibu. Senyampang ibu masih ada, hendaknya kita selalu berbakti kepadanya. Selagi ibu masih hidup, kesempatan untuk berbakti dan berbuat baik masih ada. Hendaknya kita peluk ibu sebagai reaksi cinta yang tak terperikan. Berikan senyum terbaik, agar hati ibu damai berada di sisi kita. Karena hanya dengan berbaik tingkah, ibu kita akan mendapatkan harapannya. Seorang anak yang salih, selalu berbuat sesuai dengan kaidah Islam. Ibu akan merasa bahagia mendapati seorang anak yang membuat ia tersenyum gembira.
Bahkan, andai pun ibu sudah tidak ada, maka kesempatan untuk berbakti masih terbuka. Nabi Muhammad bersabda, “Bila seorang hamba meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfat, serta anak saleh yang senatiasa mendoakan kebaikan baginya (kedua orang tua).” (Hadits dari Abu Hurairah).

Menjadi seorang anak yang kedua orang tuanya meninggal, mendokan keduanya agar diampuni dosa-dosanya, merupakan jalan yang terbaik. Berziarah ke makam kedua orang tua, juga merupakan bagian dari nilai kebaikan seorang anak. Doa seorang anak senanatiasa diharapkan oleh kedua orang tua, meskipun mereka telah menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sejenak kita ingat sebuah kisah di masa Rasulullah. Seorang sahabat bernama al-Qamah dipandang sebagai seorang yang taat beribadah. Setiap salat jamaah di masjid ia selalu berada di saf paling depan. Al-Qamah memiliki seorang ibu, sedangkan ayahnya meninggal dunia. Dan ia juga dikenal sebagai anak yang berbakti kepada ibunya. Apa pun yang dikehendaki ibu, Al-Qamah selalu memenuhinya. Tidak sekalipun Al-Qamah membiarkan ibunya mengambil air. Karena ia sendiri yang memenuhi keperluan air ibunya.
Namun, sejak Al-Qamah berumah tangga dan tinggal di rumah sendiri bersama istrinya, ia tidak lagi memperhatikan ibunya. Melihat kenyataan yang demikian, ibu Al-Qamah merasa sakit hati. Ibu Al-Qamah tidak rela terhadap perubahan sikap anaknya. Meski demikian ibu Al-Qamah tidak pernah menceritakan sakit hatinya kepada siapa pun.
Hingga sampai pada suatu waktu, Al-Qamah jatuh sakit bahkan mendekati ajal. Para sabahat berkumpul di rumah Al-Qamah dan menuntunnya agar membaca kalimat syahadat sebelum ia menghadap Tuhannya. Tetapi yang terjadi, justru Al-Qamah yang dikenal ahli ibadah, tiba-tiba lidahnya terasa kelu. Tidak dapat mengucapkan kalimat tauhid. Melihat kenyataan tersebut, sahaba memberitahukan kepada Rasulullah. Rasul pun datang ke rumah Al-Qamah dan melihat kejadian aneh pada sahabat tersebut.
Kemudian, Rasulullah menanyakan ibu Al-Qamah. Apakah masih ada atau sudah meninggal. Sebagian sahabat yang mengetahui, memberitahukan bahwa ibu Al-Qamah masih hidup. Rasulullah berkata kepada para sahabat, “Tolong datangkan ibu Al-Qamah ke sini.” Sahabat pun menjemput ibu Al-Qamah.
Setelah ibu Al-Qamah tiba di hadapan Rasulullah, “Wahai Ibu, kesalahan apa kiranya yang terjadi pada anakmu? Jika memang ada salah, tolong dimaafkan.” Ibu Al-Qamah menjawab, “Saya sakit hati wahai Rasul. Sejak menikah dengan seorang perempuan ia tidak lagi memperhatikan saya. Jadi, mana mungkin saya memaafkan anak yang durhaka,” jawab Ibu Al-Qamah bergetar sambil meneteskan air mata.
Mendengar jawaban ibu Al-Qamah, Rasulullah mempunyai cara jitu untuk meluluhkan hati sang ibu. Beliau memerintahkan para sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar. “Kita bakar saja Al-Qamah ini, biar cepat selesai,” begitu sabda Rasul di hadapan para sahabat dan didengar oleh ibu Al-Qamah. Melihat anaknya akan dibakar, spontan ibu Al-Qamah berkata, “Jangan wahai Rasul, jangan dibakar Al-Qamah. Saya telah memaafkan segala kesalahannya.” Dan saat itu juga Al-Qamah menghadap Allah dengan lidah lancar mengucapkan kalimat tauhid.
Hari Ibu adalah waktu yang tepat untuk merenung diri. Apakah selama ini kita telah berbuat baik kepada ibu. Apakah selama ini kita telah patuh dan taat terhadap ibu. Maka jika masih ada waktu, segeralah kita cari restu dan rida dari seorang ibu. Karena kesempatan itu tidak datang dua kali. Pada saat ibu pergi untuk selama-lamanya, maka kesempatan untuk berbakti langsung kepadanya telah tiada. Hal itu akan melahirkan penyesalan dan tidak akan pernah terulang kembali.
Ibu telah mengorbankan banyak hal. Selanjutnya adalah kewajiban kita sebagai seorang anak untuk membalas kebaikan ibu dengan bakti dan kepatuhan. Berikan pelayanan terbaik bagi ibu, agar seorang ibu merasa bangga dengan keberadaan anaknya. Rida Allah tergantung pada rida ibu, maka jadikanlah ridanya untuk mendaptkan ampunan-Nya. Wallahu A’lam!
