Makna hadits ini menjelaskan bahwa kedua orang tua (utamanya ibu) dapat dijadikan sandaran keridaan Allah. Sebaliknya, ketika kedua orang tua tidak rela, karena suatu sebab yang logis, maka Allah akan murka dan akan berakibat bencana. Karena itu, selagi kedua orang tua kita masih ada, marilah kita berbakti kepadanya dengan cara yang arif, santun dalam bertutur kata, serta menghindari marahnya kedua orang tua.
Tentang Sebuah Kisah

Dikisahkan bahwa Rasulullah pernah berpesan kepada Umar bin Khatab dan Ali bin Abi Thalib untuk menemui seseorang yang bernama Uwais al-Qarni dan meminta doa darinya. Umar dan Ali merasa heran, apa keistimewaan dari Uwais al-Qarni ini, sampai-sampai Rasulullah menyuruh menemuinya dan meminta doa darinya.
Setelah diselidiki, ternyata Uwais adalah seseorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Ibu Uwais sudah lanjut dan mengalami kelumpuhan. Namun, Uwais dengan segala kasih baktinya menuruti semua kemauan ibunya. Pada suatu ketika, ibu Uwais ingin sekali menunaikan ibadah haji. Namun karena keluarga Uwais termasuk miskin, ia tidak mampu untuk membeli kendaraan. Uwais pun berpikir bagaimana cara agar ibunya dapat menunaikan ibadah haji.
Kemudian, Uwais membeli seekor domba dan setiap hari digembalakannya. Tidak sebagaimana orang lain mengembala, Uwais justru menggendong dombanya, menaiki dan menuruni bukit. Semula Uwais dianggap gila oleh warga sekitarnya. Mereka tidak tahu bahwa hal itu ia lakukan sebagai latihan untuk menggendong ibunya dalam menunaikan ibadah haji. Dan benar saja, karena terbiasa menggendong domba, akhirnya badan Uwais menjadi kekar dan mampu menggendong ibunya ke tanah Mekkah yang jaraknya sangat jauh.
Sesampainya di Mekah, saat Uwais dan ibunya memunaikan ibadah haji, Uwais memohon kepada Allah agar dosa-dosa diri dan ibunya diampuni. Dan Allah mengabulkan doa Uwais al-Qarni. Itulah mengapa, Rasulullah berpesan kepada Umar dan Ali untuk meminta doa kepada Uwais. Doa Uwais al-Qarni makbul (diijabah oleh Allah) karena bakti dan pengabdiannya kepada ibu.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tabi’in yang terbaik adalah seorang lelaki bernama Uwais, ia memiliki seorang ibu, dan ia memiliki tanda putih di tubuhnya. Maka temuilah ia dan mintalah ampunan kepada Allah melalui dia untuk kalian.” (HR. Muslim).
Tidak sedikit ibrah (contoh) yang lebih bernilai legenda terkait dengan ibu. Durhaka kepada seorang ibu akan berdampak cukup fatal. Seperti kisah Malin Kundang, Sangkuriang, Si Tanggang, Batu Menagis, Si Lintang, Si Lancang, dan lain-lain adalah cerita rakyat yang dapat dijadikan peringatan oleh siapa saja. Bahwa, kalau kita durhaka kepada ibu, tidak berbakti atau bahkan menyakiti ibu, baik fisik maupun psikis, akan berdampak buruk dalam kehidupan, baik di dunia maupun di akhirat.
Memaknai Hari Ibu
Berdasarkan cerita-cerita tersebut, Hari Ibu yang kita peringati setiap tanggal 22 Desember harus kita maknai dengan kegiatan yang bernilai positif. Nilai keagungan dari seorang ibu, sudah sewajarnya diaplikasikan dalam dunia realita. Menyemarakkan perbuatan kebajikan untuk lebih peduli pada ibu, seperti mengumpulkan dana dari donatur untuk diberikan ke panti-panti jompo. Mengadakan diskusi-diskusi yang berkaitan dengan kemuliaan ibu, serta memberikan contoh langkah kongkrit terkait pengabdian terhadap seorang ibu.
Kemuliaan seorang ibu tidak dapat dibalas dengan perbuatan apa pun. Pengorbanan ibu tidak dapat dinilai dengan harta benda. Sebab cinta kasih, pengorbanan, dan sayang ibu tidak bernilai. Hanya Allah yang dapat memberikan balasan dari kemuliaan ibu dengan cinta dan kasih Tuhan.
