Kendat

Bapa dan si Mbok paham dengan situasi itu. Makanya, mereka pun akhirnya mengangguk, dengan berat hati mengijinkan anak lelaki satu-satunya merantau ke kota. Setidak-tidaknya, kami melihat ada harapan.

“Nang, pangapura sing gedhe6 Bapa tak mampu menyekolahkanmu sampai SMA. Mungkin kalau dulu kau tamat SMA, kau bisa dapat pekerjaan yang lebih baik dari sekadar ikut proyek bangunan. Sebenarnya, di sini pun tak apa. Tapi mungkin kau tak betah ya mencangkul di sawah pak haji?” tanya Bapa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Bukan begitu Pa,” aku menggeleng. “Aku suka membantu di tempat pak haji, tapi bagaimana ya… uangnya tak cukup buat bantu-bantu Bapa dan si Mbok,” aku menjawab dengan sedih.

Bapa mengangguk-angguk. Kulihat ada tangis di pelupuk matanya. Dan aku memalingkan muka, enggan menyaksikan kepedihan itu.

**

Sudah hampir sebulan aku kerja di proyek pembangunan mall di Bekasi. Bagiku sendiri ini tak lebih berat dari yang kulakukan di kampung. Aku toh biasa mencangkul di sawah seharian, maka aku tak pernah mengeluh ketika harus memecah batu atau membawa adonan semen seember besar bolak-balik. Tapi, tentu saja bukan berarti aku tak lelah. Tiap malam, saat tidur bersama puluhan teman-teman yang lain di sebuah bilik yang sempit, aku harus menahan-nahan rasa ngilu dan pegal di sekujur tubuhku. Tetapi, itu tak kusesali. Bagaimana mungkin menyesali, jika aku bisa mengirim uang sebanyak empat ratus ribu rupiah setiap dua minggu sekali untuk si Mbok di rumah.

Seperti hari ini. Hari yang ditunggu-tunggu: hari gajian. Kami, buruh di proyek pembangunan mall ini, memang dihitung sebagai pekerja harian, namun uangnya dibayarkan seminggu sekali supaya lebih mudah. Setiap minggu, kami memperoleh bayaran sebesar tiga ratus ribu rupiah. Yang seratus biasanya kupakai untuk makan dan beli rokok, yang dua ratus aku sisakan untuk kukirim ke rumah. Untuk kiriman ke rumah ini, biasanya aku mengirimkannya dua minggu sekali, jadi sekaligus empat ratus ribu rupiah banyaknya.

Waktu sudah hampir ashar ketika aku dan kawan-kawan bergerombol bersama, menunggu giliran dipanggil untuk menerima gaji. Begitu salah seorang temanku kembali dengan amplop putih di tangan dan membuat isyarat bahwa aku giliran selanjutnya, aku berdiri dan membuang puntung rokokku ke tanah serta menginjaknya sampai baranya mati.

Aku baru sedang berjalan untuk menghadap bosku dan mengambil uang gajian ketika hape bututku berdering. Deringnya jelek sekali, maklum hape jadul. Kulihat di layar yang berkedip-kedip ada nama Sutri. Aku tersenyum.

“Halo Tri, aku baru mau gajian ini, besok kukirim ya,” cerocosku sumringah begitu aku menekan tombol jawab.

Tinggalkan Balasan