Ammi Nur Baits, dalam artikelnya menjelaskan bahwa diperlukan teknis pengobatan atau penanganan dalam penyakit waswas. Dalam setiap penyakit selalu ada jalan keluar untuk mengobatinya. Rasulullah Saw bersabda, “Semua penyakit ada obatnya. Apabila sesuai antara obat dan penyakitnya, maka (penyakit) akan sembuh dengan izin Allah SWT.” (HR. Muslim)
Ada beberapa yang bisa digunakan untuk mengobati penyakit kejiwaan ini. Pertama, tidak peduli, yaitu berusaha tidak mempedulikan bisikan-bisikan yang membawa kepada rasa waswas. Hal ini mungkin awalnya terasa sulit, namun jika dilakukan dengan dengan sepenuh hati, bahwa bisikan itu datangnya dari setan, bukan tidak mungkin akan menjadi obat untuk kembali pada kepastian. Di samping itu sikap tidak peduli merupakan perlawanan terhadap godaan setan atau iblis. Karena sudah jelas dalam sabda Nabi Muhammad bahwa waswas merupakan bisikan setan.

Kedua, mengambil sikap sebaliknya. Artinya jika selalu merasa tidak yakin, maka harus diyakinkan dengan sekuat perasaan. Jika merasa selalu tidak sah, ambil tindakan bahwa itu sudah sah. Awalnya mungkin akan terjadi penolakan dalam pikiran. Namun pada akhirnya, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa waswas itu hanya sebuah permainan iblis dan setan.
Ketiga, terus berlatih dengan sabar. Berusaha untuk terus menerus menyingkirkan rasa waswas atau keragu-raguan dengan keyakinan yang diikhtiarkan. Kita harus berkomitmen bahwa alyaqinu la yuzalu bissyak; bahwa keyakinan itu tidak bisa dihilangkan dengan keragu-raguan. Jika ini sudah menjadi tekat dalam membentuk keyakinan yang utuh, maka bukan tidak mungkin rasa waswas akan hilang dengan sendirinya.
Keempat, banyak berlindung dadi godaan setan. Bisa dengan cara sering-sering membaca ta’awwudz, banyak berzikir, serta lebih mendekatkan diri kepada Allah. Berlindung dari godaan setan, tentunya ditujukan kepada Allah. Memohon dan berdoa agar setan tidak lagi membisikkan hal-hal yang tidak kita inginkan. Waswas adalah penyakit psikologi yang dalam pengobatannya juga memerlukan pendekatan psikis.
Tawakal Setelah Ikhtiar
Setelah melakukan serangkaian ikhtiar, saatnya kita menyerahkan diri kepada Allah. Tawakkal adalah bentuk penyerahan diri yang wajib diikuti oleh usaha yang maksimal. Sebab, tawakal tanpa disertai ikhtiar tidak akan mencapai kesempurnaan. Sebaliknya ikhtiar tanpa tawakal akan jatuh pada kesombongan (takabur).
Allah berfirman, “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertwakkallah (berserah diri) kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal pada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159).
Ayat ini mengandung makna bahwa setelah kita berusaha, ikhtiar maksimal, dan membulatkan tekat, maka selanjutnya adalah berserah diri kepada Allah. Sebab, Allah mempunyai jalan terbaik bagi umatnya. Sehingga pada akhirnya kita mampu menghadapi segala bentuk problematika hidup.
