Kertas Lusuh Sastra Hemi

Kutitipkan motorku di teras rumah seorang warga tiga rumah sebelah barat surau pinggiran kebun tebu. Sejurus kemudian aku telah dihadapkan pada jalan setapak yang kanan-kirinya dikelilingi rimbun tanaman tebu. Sesekali daun-daun tanaman penghasil gula yang menjuntai ke jalan itu menyentuh lenganku, membuat rasa gatal mendera kulit lengan tanganku.

Terik matahari yang sepenggalah naik membuat suasana perkebunan semakin gerah. Kubuka kerah bajuku dan langkah kakiku terus berayun menelusuri jalan tikus yang entah akan seberapa jauh kulalui nanti. Terlintas di benakku membayangkan murid-muridku menyusuri jalanan seperti ini. Masih pantaskah aku menyalahkan mereka datang telat ke sekolah?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jauh hari sebelum aku datang ke tempat ini, ayah ibuku lebih dulu menanyai kesanggupanku mengabdi di tempat-tempat yang sulit. Tinggal di tempat terpencil dengan akses kebutuhan hidup yang serba terbatas pasti akan sulit bagiku yang semenjak kecil tinggal di kota dengan segala kemewahannya. Tapi keputusanku untuk mengambil kuliah pendidikan telah kupikirkan matang-matang, termasuk kesiapan mentalku akan mengabdi di tempat seperti ini. Bukan saja medan yang sulit, iklim belajar di sekolah yang sangat tidak kondusif ditambah pandemi berkepanjangan ini nyaris memupus semua naluri dedikasi mendidikku.

“Terus terang aku tak mampu jika harus mendatangi rumah anak-anak itu satu per satu, Pak Mon,” kata Pak Sardi tempo hari sembari menyemburkan asap Surya. Terlihat dia menikmati rokok yang barusan kusodorkan itu. “Tak cukup uang gaji untuk membeli bensin. Bisa mencak-mencak istriku merasa keluarga diabaikan demi idealisme yang sudah tak lagi ideal begini.”

Semakin kutelan ucapan rekan mengajarku ini semakin aku dilumuri putus asa. Idealisme menjadi pendidik yang penuh dedikasi menguar sudah ditelan asap kehidupan yang pengap lagi gerah.

“Benar, Pak Di. Otakku nyaris buntu untuk memecah permasalahan. Ide-ide mengajar yang kudapat dari bangku kuliah tak ada yang terpakai di tempat ini. Apalagi dari lima belas siswa yang mendaftar di kelas tujuh ini belum ada yang pernah kujumpai. Dan hanya tiga siswa yang aktif mengirim tugas,” sahutku.

“Mestinya kamu tak ikut-ikutan putus asa seperti Pak Sardi, Mon. Bukankah kamu dibayar negara? Pun, tak ada tangisan bayi atau bawelnya istri saat kau hendak menyusun tugas belajar, atau mendatangi anak-anak yang tak pernah menampakkan batang hidungnya di grup WA itu,” Pak Jono Karso ikut menimpali.

“Lalu, beberapa siswa yang tidak aktif di kelas Bapak Jono itu apakah sudah pernah disamperi?” tanyaku. Kali ini guru dengan kepala dipenuhi uban itu terdiam dan membuang muka. Tangannya yang mulai keriput menggerayangi meja, menggapai segelas kopi tinggal yang separo yang kubuat tadi pagi.

“Ketiga cucuku tak pernah memberiku waktu untuk memperhatikan anak-anak yang tak niat sekolah itu. Anakku pun melarangku menyeberangi sungai mencari rumah anak-anak malas itu,” lidah orang tua itu masih pintar berkilah rupanya. Emosiku mulai tersulut.

“Dari kita bertiga, hanya kau yang tak punya alasan untuk tidak melaksanakan tugas kepala sekolah mendatangi rumah anak-anak,” Pak Sardi memojokkanku, dibumbuinya pula kata-kata itu dengan tawa yang hambar, namun terasa pahit di hadapanku.

“Kau PNS Pak Lamon. Masih muda. Tunjukkan pada dunia bahwa kamu memang ada dan layak untuk disebut sebagai pahlawan pendidikan. Nanti biar kuviralkan namamu di media sosial. ‘Seorang guru muda rela menyeberangi sungai curam dan membelah rimba tebu demi mendidik siswa-siswinya di saat pandemi’. Atau kamu punya kalimat yang lebih tragis dari itu?” tawa Pak Sardi kian bederai.

“Lamon pun punya masalah, Di. Jangan terlalu memojokkannya,” tegas Pak Jono Karso guru sejarah itu.

“Apa itu Pak?” sahut Pak Sardi.

“Lihatlah raut mukanya yang murung dengan sorot mata redup itu, apalagi kalau bukan karena cintanya kandas di tempat pengabdian ini. Tak ada sinyal untuk komunikasi, tak ada kepastian bagi si calon istri. Ke mana lagi hati harus berlari jikalau hati sedang dilanda sepi?” ucapan Pak Jono Karso dipungkasi tawa. Ucapan bercanda itu terdengar pedas sekali di telingaku karena semuanya benar belaka.

Ucapan-ucapan kawanku mengajar di depan kantor guru beberapa hari yang lalu itu mencambuk naluriku. Dan semakin ke sini aku harus semakin tersadar, aku yang orang kota dengan gemblengan ketat dunia kampus tak boleh terpengaruh dengan keadaan tanah pinggiran ini. Harus kuabaikan rasa lelah yang semakin mendera tubuhku. Kulepas baju keki dan kutaruh di tas, menyisakan kaus lengan pendek yang mudah menyerap keringat. Terik matahari semakin membakar tubuhku. Sekitar satu kilo setelah memasuki jalan pintas ini, udara semakin terasa panas. Daun-daun tebu kering berserakan di tengah jalan yang terinjak membuat suara langkah kakiku terdengar berisik. Kakiku terus melangkah.

Di kejauhan mataku memandang, tampak sebuah gubuk di tengah rimba tebu. Mungkin aku bisa bertanya keberadaan rumah Sastra Hemi jika ada orang di sana. Langkah kakiku semakin kupercepat. Tubuhku semakin basah oleh peluh. Semakin dekat gubuk itu semakin tampak besar dan reot papan serta atapnya.

Sepertinya ini rumah, bukan gubuk. Di terasnya ada seonggok dipan yang kulihat di atasnya seorang lelaki tengah duduk sendirian. Kupercepat langkah kakiku menuju ke sana. Lelaki berewok dengan pakaian kumuh itu memandangku lekat. Ketika kutanya dia menjawab dengan suara tak jelas yang tak kumengerti apa maksudnya. Tangannya menunjuk sebuah arah. Bukannya menuding dengan jari telunjuk, jemarinya justru mengepal.

Kupahami isyaratnya sebagai petunjuk keberadaan rumah Sastra Hemi. Kuikuti arah yang ia tunjukkan. Kulewati jalan kecil di tepi parit dengan aliran air jernih yang tenang. Di sisi kanan jauh dari jalan yang kulewati tampak ada perkampungan yang ditutupi perkebunan tebu. Tidak jauh di depanku kudapati beberapa orang yang tengah menebang tebu. Ada tawa di sela-sela kesibukan pekerjaan mereka. Namun kemudian percakapan para pekerja itu berhenti ketika aku datang mendekat.

“Jadi, Bapak ini gurunya Sastra? Jadi selama ini dia juga sekolah? Tapi kenapa setiap hari dia juga ada di kebun tebu ini? Jadi, kapan sekolahnya anak itu?” seorang lelaki berkumis tebal yang kutanyai perihal keberadaan salah satu muridku yang tak pernah aktif pembelajaran daring itu justru menggumamkan pertanyaan-pertanyaan tak jelas kepadaku.

Tinggalkan Balasan