“Sastra sedang tebang tebu di sebelah sana, Pak. Itu anaknya kelihatan. Dia membuntal kepalanya dengan kain berwarna kuning,” papar seorang ibu-ibu. Beberapa orang yang sedang menebang tebu itu mulai sibuk memberitahuku perihal keberadaan Sastra Hemi. Kebanyakan mereka tak tahu kalau anak itu bersekolah.
Mulanya Sastra Hemi tak tahu siapa aku. Setelah kujelaskan bahwa akulah gurunya, baru kemudian dia mengerti. Pekerjaannya segera dia hentikan. Kami berbicara di pematang kebun di bawah pohon pisang yang rindang. Bau kecut yang mencuat dari tubuh anak itu menyerbu hidungku kala dibawa oleh embusan angin. Kulitnya yang legam menyiratkan apa kesibukannya selama ini, sekaligus menjawab rasa penasaran yang bercokol di kepalaku kenapa dia tak pernah aktif pembelajaran daring.

“Bapak sakit stroke sejak dua tahun yang lalu. Aku menggantikannya bekerja untuk menyambung kehidupan.” Bocah bernama Sastra Hemi ini lantas menunduk. Dan kemarahan yang ingin kumuntahkan hampir di sepanjang jalan di rimba tebu tadi menguar begitu saja. Tak ada HP di rumahnya. Jangankan HP, untuk makan saja dia harus bekerja begini melelahkan. Di usianya yang masih belia otot lengannya telah menyembul tak ubahnya seorang ayah yang tak kenal lelah menghidupi keluarganya.
Dia bercerita panjang lebar. Ibunya meninggal bahkan ketika dia masih bayi. Kini dia tinggal di rumah hanya dengan bapaknya. Sebelum berangkat kerja dia memasak, membereskan rumah, serta memandikan bapaknya. Dadaku seketika terasa sesak.
“Jadi, kau sudah tidak sekolah?” tanyaku kemudian.
Dia terperanjat dengan raut muka sedih.
“Apakah aku sudah dikeluarkan dari sekolah, Pak? Kata Parni beberapa waktu lalu sekolahnya masih tutup. Jadi aku tak pernah menengok sekolah lagi,” sahut Sastra Hemi.
“Kau tahu ada tugas yang disampaikan lewat HP?”
Pertanyaanku dijawabnya dengan anggukan kepala.
“Kau sudah mengerjakan tugas-tugas itu?” tanyaku lagi.
“Sudah, Pak. Beberapa. Tapi tak tahu harus dikemanakan tugas-tugas itu,” jawab Sastra putus asa.
“Kau tahu tugas-tugas itu darimana?”
“Parni yang memberitahuku.”
“Kenapa tak kau minta dia untuk mengirimkan tugasmu?”
Semakin kuinterogasi anak itu semakin tampak takut. Kuelus pundaknya yang lembab oleh keringat untuk menetralkan suasana.
“Sekarang aku sudah jarang ke surau.”
“Apa hubungannya dengan tugas-tugas sekolahmu?” tanyaku.
“Biasanya Parni memberitahuku jika ada tugas saat mengaji di surau Haji Safawi. Sekitar sebulan ini bapak semakin parah sakitnya, aku tak tega meninggalkannya sendirian di rumah. Tapi aku sudah mengerjakan beberapa tugas sekolahnya, Pak. Jangan keluarkan aku dari sekolah. Sastra masih ingin sekolah, Pak,” anak kecil itu menangis. Dan dadaku terasa semakin sesak.
“Jangan menangis, Nak. Sekolah tak akan pernah mengeluarkanmu. Bisa kau antar aku ke rumahmu?”
