“Mulia sekali kau, Jo, dapat mempekerjakan banyak orang,” pujiku padanya. Kijo hanya tersenyum dan diam. Kami lalu berjalan-jalan, mengawasi. Sesekali pegawai menyapa kami berdua. Bukan, maksudku menyapa Kijo.
Setengah jam berlalu, kami pamitan dengan Kang Ncep, mandor yang akan kugantikan posisinya.

“Mau ke mana lagi kita, Jo?” di antara jerit azan dhuhur aku melepas tanya pada Kijo. Ingin kukatakan, “Antar aku ke mushollah atau masjid dulu Jo,” namun aku malu. Bagaimana lagi hanya bisa berkata dalam batin.
“Sudah ikut saja, Njot,” tukasnya.
Kulihat pada arloji Kijo yang menempel pada pergelangan tangan kirinya, jarum jam menunjukkan pukul dua kurang seperempat. Aku tak tahu ke mana ia akan membawaku. Perjalanan agaknya masih jauh, sedang waktu dhuhur akan lepas landas sebentar lagi. Batinku mulai tak tenang. Terpaksa aku bohong pada Kijo.
“Jo, Jo, berhenti di pom bensin depan ya, aku kebelet.”
Cepat ia menjawab, “Siap, siap. Sekalian aku mau ambil uang dulu.”
Tak genap sepuluh menit aku sudah selesai. Kijo menunggu di depan ATM. Kami berdua melanjutkan perjalanan. Tiga jam berlalu, belum juga sampai tujuan. Kukira dekat, ternyata motor masih melaju kencang. Kali ini kami melewati batas kota, “Selamat Datang di Wisma Pasar Daging.” Aku membacanya dengan jelas. Pikiranku masih bingung, sebuah banner di samping kanan-kiri kami.
“Ayo turun Njot, kita sudah sampai,” kata Kijo. Tanpa kujawab aku pun turun dan melepas helm. Memperhatikan sekitar, kondisinya sangat sepi. Namun banyak sepeda motor dan mobil memenuhi parkiran. Matahari sudah mulai sembunyi. Aku masih mengawasi sekitar, mencari musala atau masjid. Sayang, hanya terlihat kompleks perumahan yang tercium aroma wangi parfum.
Kami berjalan masuk ke salah satu rumah. Betapa kagetnya aku, Kijo mengajakku ke rumah bordil. Dalam gemetar yang berguncang, aku berusaha bersikap biasa. Jangan sampai Kijo tahu aku sedang ketakutan dan gemetar.
“Kau tak apa-apa Njot? Kenapa wajahmu pucat,” ini kedua kali Kijo bertanya padaku.
Tak kuhiraukan pertanyaannya. “Di mana kamar mandinya? Di mana kamar mandinya?” tanyaku sambil pura-pura kebelet. Seorang penerima tamu yang cantik menghela napas dan menunjukkanku letak kamar mandi. Cepat-cepat aku lari bergegas mengambil wudhu dan salat ashar.
Setelah selesai, kulihat Kijo sedang duduk di tengah dua wanita yang bagiku sangat menawan dan bisa merusak iman. Sebab, kecantikan paras dan tubuhnya, ditambah dengan pakaian yang serba mini, sangat menggoda. Mereka asyik berbincang sambil minum yang dituangkan khusus oleh wanita itu pada Kijo.
Di antara pembicaraan mereka, Kijo melihatku dan mengundangku untuk menghampirinya. “Mbak, mbak, satu kamar ya, plus isinya!” teriak Kijo pada mbak cantik penerima tamu.
