Akhirnya saat yang ditunggu tiba. Alawi mengambil tugas sebagai muazin. Sedangkan Samad hanya tertunduk lesu mendengarkan suara merdu anak semata wayangnya itu. Sejenak suasana menjadi khidmat. Inilah sembahyang yang paling luar biasa yang pernah digelar di seluruh dunia.
Ikamat telah selesai dikumandangkan. Tapi sang imam tak bergerak sedikitpun. Sang imam masih menunduk. Sedangkan makmum di belakangnya masih menunggu aba-aba. Sembahyang itu tak juga dimulai. Makmum mulai merasakan sesuatu yang janggal. Apa yang sedang terjadi?

Keringat dingin mengucur dari kulit renta Samad yang berdiri membeku di hadapan anaknya dan kedua sahabatnya. Tubuhnya mendadak panas, ia malu. Malu semalu-malunya. Ia merasa ia sangat tidak pantas menjadi manusia yang ditakdir menjadi ayah dari seseorang yang terkenal alim.
Aku bukan ibumu, Wi.
Gumam Samad dalam hatinya. Pikiran dan kenangan tentang istrinya berkelebat di dalam kepalanya. Cepat dan semakin cepat kenangan dan pikiran itu semerawut di kepalanya.
Tiba-tiba Sang Imam bergerak. Tapi kali ini gerakannya justru tidak biasa. Imam salat Maghrib itu melesat secepat kilat meninggalkan makmumnya yang masih berdiri mematung. Dibantingnya pintu depan keras-keras. Sang Imam berlari menembus pekatnya kegelapan malam. Ia terus berlari. Berlari hingga akhirnya napas tak memberinya kesempatan lagi. Sang Imam akhirnya kelelahan. Sang Imam menangis menyesal penuh rasa malu.
***
Keesokan harinya.
“Pak. Mari pulang. Tidak baik merepotkan orang,” Suara Alawi membangunkan lamunan Samad. Tampak juga Busar, si tuan rumah. “Mari pulang, Pak,” Kata Alawi sekali lagi.
“Bagaimana dengan kedua temanmu itu?” tanya Samad dengan wajah tertunduk.
“Mereka sudah pulang tadi subuh.”
Sepanjang perjalanan pulang, Samad terus menundukkan kepalanya meskipun sebenarnya ia ingin tertawa.
“Benar, Pak. Alawi juga heran mengapa kedua sahabat Alawi berkata seperti itu. Mereka adalah orang-orang alim. Mereka ikut Alawi ke sini karena penasaran dengan Bapak. Kata mereka, orang tua yang luar biasa akan melahirkan anak yang luar biasa pula. Tapi setelah kejadian Bapak yang meninggalkan mereka di rumah semalam, mereka mengatakan, ‘Kami tak pantas berada di sini. Kami tak pantas bertemu Ayahmu. Jangankan berguru, menjadi makmumnya saja kami tak pantas. Lihat saja. Ayahmu lari ketika hendak memulai sembahyang. Itu baru pertama kali terjadi. Kau tahu? Kami akan pulang. Kami akan belajar lebih giat lagi. Kami akan melatih diri. Sampai hati kami benar-benar bersih dan layak untuk menjadi makmumnya lagi.’”
Jember, 2023.
Catatan: Cerpen ini terinspirasi dari kisah Syekh Nawawi Al Bantani yang disadur dengan cerita yang pernah didengar penulis dari ayahnya.
