Ketika Alawi Pulang

Suasana sejenak menjadi hening, tenang penuh arti. Samad tak melanjutkan cerita malam purnama itu kepada Busar yang mulai gelisah mendengar kelanjutan dari kisah sahabatnya yang luar biasa itu. Sambil tersenyum tapi agak kesal, Busar segera menyeruput habis kopi dinginnya.

“Entahlah. Aku tak mampu untuk memikirkan hal semacam itu. Agaknya memang benar. Bukan maksudku menyinggung. Tapi kesalehan Alawi memang karena mendiang ibunya. Sedangkan, Kau Samad…” Busar sejenak terdiam, lalu melanjutkan, “Entahlah”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Busar pamit lalu meninggalkan Samad berdua saja dengan pikirannya. Sedangkan Samad dalam renungan, terjebak. Dalam perjalanan pulangnya Samad masih sibuk dengan isi kepalanya. “Sebulan lagi. Apa yang dapat kupersiapkan?”

Tiba-tiba Samad dikejutkan oleh beberapa orang berdiri di depan rumahnya. Ia mengernyitkan dahi, mencoba meneliti wajah orang-orang itu.

“Oh. Gusti,” Samad berseru setelah berhasil mengenali salah satu wajah itu yang tak lain adalah Alawi, anaknya sendiri. Laki-laki muda berjambang itu segera menuju ke arahnya. Ia membungkuk, lalu diraihnya tangan kanan Samad, diciumnya tangan keriput dengan urat otot yang menonjol itu. Dihirupnya aroma apek tangan perokok itu. Kemudian laki-laki muda itu bangkit lalu didekapnya tubuh yang masih terpaku itu. Lepaslah semua rasa rindu yang sudah terpendam.

“Sejak dalam pendidikan keluarga, cinta memang telah ditanamkan pada dirinya. Maka tidak diragukan lagi keluargalah yang sangat berperan penting dalam perkembangan pada diri Alawi”.

“Iya, kini aku tahu dan melihatnya sendiri”. Dua orang bertubuh tinggi besar di belakang Alawi saling berbisik

Menyadari hal itu, Alawi akhirnya memperkenalkan dua orang yang turut serta bersamanya. Dengan menjadi penerjemah bahasa Arab, Alawi menceritakan maksud dari dua sahabatnya itu datang ke rumahnya.

Alih-alih mendapatkan tanggapan, tiba-tiba saja Samad beranjak meninggalkan Alawi dan kedua sahabatnya itu. Samad langsung masuk ke dalam kamar. Mengunci pintu rapat-rapat, sedangkan Alawi dan dua orang temannya hanya bisa saling bertukar pandang. Tetapi Alawi bergerak dengan tepat. Diberinya pengertian kepada kedua sahabatnya itu bahwa sebentar lagi matahari terbenam. Samad, Ayahnya, akan bersiap-siap sembahyang.

“Ayah saya sejak tadi pagi pergi bekerja mengurus sawah dan kebun. Maka mungkin sekarang beliau sedang lelah,” kata Alawi dalam bahasa Arab yang fasih. Kedua sahabatnya itu mengangguk.

Alawi segera menyusul ke dalam rumah. Ia mencoba membujuk ayahnya. Setelah dibujuk, akhirnya Alawi bisa masuk. Dua orang dalam kamar itu seperti sedang membicarakan suatu hal yang sangat penting. Untung saja kedua teman Alawi tak mengerti apa yang mereka berdua tengah rundingkan di dalam kamar. Yang mereka dengar hanya isak tangis.

“Kau tahu bahwa Bapakmu ini tak tahu mengaji? Menjadi imam untuk ibumu saja Bapak tak pantas, Wi. Sementara kamu, Wi. Kamu sudah dikenal oleh para kiai di sini. Berita kealimanmu sampai ke sini bahkan sebelum kepulanganmu.”

Samad berteriak kecil dari dalam kamar. Suaranya terdengar sampai keluar kamar, dan membuat kedua sahabat Alawi saling melempar pandang dan bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi di sana? Setelah beberapa lama, kedua orang itu tak kunjung keluar.

Kedua teman Alawi menunjukkan wajah kekecewaan. Jarak jauh yang telah mereka tempuh sepertinya akan sia-sia. Akhirnya mereka menghabiskan malam itu dengan bertanya-tanya. Mereka tidur berdua di bilik yang disediakan oleh Alawi. Sementara Alawi tidur bersama dengan ayahnya yang tidak lagi menampakkan dirinya sejak pertemuan terakhir mereka, bahkan hingga esok harinya, mereka seperti tidak mendapatkan sambutan dari ayah Alawi.

“Mari kita bersiap-siap sembahyang Maghrib. Hari mulai petang,” tiba-tiba Alawi keluar membuyarkan dua orang yang sedang berdiskusi di dipan teras rumah. Tak lama kemudian disusul oleh Samad yang keluar dengan membawa sarung dan sajadah.

Setelah selesai bersuci, mereka berempat kemudian menggelar tikar di ruang tengah. Kedua teman Alawi berbaris lurus membentuk saf yang sempurna. Kaki mereka rapat. Aroma wangi menyeruak di seluruh sudut ruangan. Agaknya ini menjadi sembahyang yang paling ditunggu-tunggu oleh kedua teman Alawi. Perasaan mereka sangat bahagia. Pada akhirnya mereka akan menjadi makmum dari seorang ayah dari kawan mereka yang terkenal istimewa itu. Sebuah senyum terbentuk dari bibir Alawi.

Tinggalkan Balasan