KETIKA FAJAR MEMINANG
Tak butuh persetujuan untuk menyapa
Bahkan, fajar pun meminang tanpa izin
Pada setiap jiwa yang masih berselimut
Di atas singgasana peristirahatannya

Matahari sebagai saksi pernikahan hari
Dengan bulan madu ikhtiar dan berfoya sepanjang hari
Tak lupa pula mempersiapkan kehidupan yang abadi
Hingga mau tak mau harus berpisah dengan hari ini
Menyambut esok yang lebih bermakna
Riau, 19 Januari 2022.
GELEBAH AKHIR ZAMAN
Insan yang lena fatamorgana dunia
Carut marut peradaban manusia
Hitam menjadi putih
Putih menjadi hitam
Kegelisahan sang panutan

Menarilah fajarku, di lekuk cahaya mentari
Menyemai butiran hatimu padaku,
Di setiap sila yang kaurekahkan bersama puja
Sekabut ruah luruhmu,
Menajam alismu di jagat bianglala
Ketika Fajar Meminang adalah puisi untuk melantik optimisme biar duka–lara tak terlalu bertahta di sukma, salam kenal dari Moh. Ghufron Cholid, Junglorong