Ketika Hidup Disetir Algoritma

Akibatnya? Empati menjadi langka seperti air di musim kemarau. Perbedaan yang seharusnya menjadi berkah, menjelma bahan ejekan. Kritik memburuk menjadi cercaan. Percakapan berubah menjadi pertempuran. Kita terluka, dan tanpa sadar, melukai balik. Bukankah kita semua pernah merasakan getirnya hal ini? Saat jari lebih cepat mengetik comment pedas daripada hati merenungkan perasaan orang di seberang layar?

Fenomena ini mengingatkan kita pada Hadis Ruwaibidhah: “Akan datang suatu masa, orang yang bodoh berbicara tentang urusan umum.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ini bukan ramalan suram, tapi peringatan yang hidup. Algoritma adalah panggungnya, ruang gema adalah pengeras suaranya, dan gelembung filter adalah penjaga gerbangnya. Mereka yang seharusnya mendalamkan ilmu sibuk di menara gading, sementara panggung direbut oleh tong kosong yang nyaring bunyinya.

Namun, di tengah riuh ini, manusiawi kita sesungguhnya belum padam. Ia masih mengembuskan napasnya yang hangat di sela-sela kesibukan jemari. Saat amarah terpancing konten, ada ruang untuk menarik napas dalam, sebelum jemari tergesa mengetik balasan; ruang untuk bertanya dalam hati apakah kata-kata kita menumbuhkan kebaikan atau hanya menambah sampah dalam sungai kebisingan.

Angin lain pun bisa kita cari dengan sengaja—menyusuri lorong informasi di luar tembok gema bagai petualang yang mencicipi rempah asing, membiarkan cakrawala pikiran melebar perlahan.

Tinggalkan Balasan