Pun, di setiap kolom komentar, benih adab digital bisa kita taburkan dengan mengingat: di balik username yang dingin ada jantung manusia yang berdetak; bahwa setiap kata adalah cermin jiwa. Dan ketika godaan soundbite viral mengganggu, kita bisa memeluk kembali kedalaman.
Menghormati proses sunyi yang melahirkan pemahaman, menyadari ilmu yang diendapkan dalam diam, selalu lebih bernutrisi daripada seruan yang menggelegar tapi kosong.

Seorang anak kecil belajar berjalan dengan jatuh-bangun. Mungkin peradaban digital kita masih seperti anak kecil itu, cerdas secara teknologi, tapi tersandung dalam kebijaksanaan. Setiap kali kita memilih untuk tidak terprovokasi, setiap kali kita menyimak sebelum menyanggah, kita meniupkan sedikit kemanusiaan kembali ke dalam angin yang berembus di layar.
Pertanyaannya bukan lagi “Siapa yang tidak terhipnotis?” Tapi, “Bersediakah kita mencabut diri dari hipnosis itu, sedikit demi sedikit, dengan harapan obrolan yang lebih manusiawi di tepian sungai informasi ini?”
Angin algoritma akan terus bertiup. Tapi arah perahu kita, masih bisa kita kendalikan. Dengan hati, bukan sekadar jemari.
