Ketika Ibu Negara Bukan di Istana Tapi di Rumah-rumah Kita

Saatnya Berhenti Meremehkan Peran Domestik

Kita hidup di zaman yang serba mengagungkan pencapaian di ruang publik. Penghargaan, jabatan, pencapaian akademik, atau followers media sosial sering kali dianggap ukuran keberhasilan. Namun, bukan berarti pekerjaan rumah, pengasuhan, atau kegiatan sosial berbasis komunitas menjadi hal yang patut dipandang sebelah mata. Perempuan-perempuan Dharma Wanita adalah contoh nyata bahwa kekuatan perempuan tak melulu harus ditunjukkan lewat jabatan atau panggung besar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pekerjaan domestik sering distereotipkan sebagai ‘biasa saja’ atau ‘tak penting,’ padahal justru dari ruang rumah tangga itulah karakter anak dibentuk, nilai kesetiaan dipupuk, dan empati dilatih. Mengajarkan anak-anak untuk disiplin, menanamkan nilai tanggung jawab, mendampingi mereka saat gagal dan memberi semangat saat mereka mencoba lagi, semua itu adalah pekerjaan intelektual dan emosional yang tidak mudah.

Banyak istri ASN yang juga harus bekerja di luar rumah, sambil tetap memikul tanggung jawab domestik tanpa pengakuan. Mereka multitasking bukan karena ingin terlihat hebat, tapi karena memang tak ada pilihan lain. Tapi ketegaran mereka seharusnya tidak dilihat sebagai kewajaran belaka. Ini adalah tanda kekuatan yang layak dihargai.

Dalam Islam, posisi seorang ibu begitu tinggi hingga disebut bahwa surga ada di bawah telapak kakinya. Ini bukan metafora kosong. Ini penegasan bahwa kerja-kerja domestik, kerja-kerja penuh cinta dan pengorbanan, adalah bagian dari ibadah yang agung. Bahkan jika tak ada panggung yang memberi tepuk tangan, Allah SWT mencatat setiap cucuran keringat dan doa yang mereka panjatkan dalam sepi.

Maka, mengapresiasi Dharma Wanita bukan sekadar formalitas, tapi bentuk penghormatan atas peran yang terlampau lama dianggap biasa saja. Sudah saatnya narasi tentang pengabdian perempuan tidak hanya berhenti di ruang seremonial dan foto kegiatan. Kita butuh perubahan cara pandang: bahwa mendidik anak dengan cinta, mendampingi suami dengan sabar, dan menghidupkan masyarakat lewat kegiatan sederhana, adalah bentuk kontribusi besar yang layak dimuliakan.

Tangguh Tanpa Harus Jadi Sorotan

Di Hari Dharma Wanita Nasional ini, mari kita rayakan bukan hanya dengan seremoni, tapi juga dengan refleksi. Bahwa banyak perempuan di sekitar kita yang telah berjuang tanpa pamrih. Mereka mungkin tak memiliki gelar tinggi, tak punya ribuan pengikut di media sosial, tapi mereka punya hati yang kuat, tangan yang ringan membantu, dan semangat yang tak pernah padam.

Tinggalkan Balasan