Program ini berlangsung selama lima tahun (1967–1972) dan berhasil meningkatkan curah hujan sekitar 30% di wilayah sasaran. Itu adalah satu-satunya operasi militer yang terdokumentasi menggunakan cuaca sebagai senjata secara langsung.
Sejak saat itu, teknologi modifikasi cuaca terus berkembang. Di banyak negara, cloud seeding digunakan untuk meningkatkan curah hujan dalam menghadapi kekeringan, atau mengurangi risiko kabut asap dan polusi.

Tapi di balik tujuan sipil, potensi militer dari teknologi ini tidak bisa diabaikan. Apa yang dulu hanya mungkin lewat eksperimen kimia di laboratorium kini bisa dilakukan dengan bantuan satelit, kecerdasan buatan, dan drone berakurasi tinggi.
Teknologi cuaca kini tak lagi sebatas menyemai perak iodida ke awan. Negara-negara seperti Tiongkok, AS, Rusia, dan UEA telah mengembangkan sistem modifikasi cuaca yang lebih kompleks. Misalnya, penggunaan sinar laser untuk merangsang pembentukan awan, mengatur kelembapan udara lewat penguapan terarah, hingga menyebar gelombang elektromagnetik dari stasiun darat untuk memanipulasi tekanan atmosfer.
Langit yang Dimiliterisasi
Kita hidup di era ketika data atmosfer bisa dipetakan secara real-time. Satelit meteorologi milik negara-negara besar dapat memantau pergerakan awan, tekanan udara, dan curah hujan dengan presisi tinggi. Bersama sistem AI prediktif dan model-model superkomputer, skenario rekayasa cuaca tidak lagi mustahil.
Sementara itu, dalam dunia militer, upaya penguasaan ruang udara tidak hanya soal rudal dan jet tempur. Kontrol atas langit kini juga menyasar elemen-elemen tak kasat mata: suhu, kelembapan, arah angin, dan pola awan.
