Manusia modern terancam kehilangan pemahaman mendasar tentang eksistensinya: siapakah ia di tengah gempuran informasi? Bagaimana seharusnya ia menjalani hidup yang bermakna? Dan bagaimana ia dapat mengoptimalkan potensi dirinya secara produktif di era serba digital ini?
Akibatnya, manusia menjadi semakin pasif dan bergantung. Mereka berhenti berpikir secara mandiri dan merelakan hati nurani pada keputusan-keputusan yang disusun oleh sistem yang tidak mereka kuasai.

Seperti yang digambarkan novelis Rusia Fyodor Dostoevsky dalam karya-karyanya, manusia bisa menjadi sosok tragis—tidak karena kekejaman dunia, melainkan karena ketidakmampuannya melihat pilihan lain.
Manusia modern seringkali dilanda kegelisahan dan kebingungan, meskipun berada di puncak kemajuan teknologi. Mereka bekerja dan berjuang, namun samar-samar merasakan kehampaan akibat hilangnya kendali atas arah dan makna aktivitas mereka. Ironisnya, di saat manusia berhasil menciptakan alat yang luar biasa, ia berpotensi menjadi budak dari ciptaannya sendiri.
Kemunculan rasa gamang mengenai otonomi dan nalar manusia, walhasil menimbulkan sikap relativistis yang mengandaikan bahwa tidak ada pertanyaan yang secara objektif sahih dapat diutarakan. Sikap ini pada akhirnya membuat individu semakin rentan untuk tunduk pada sistem teknologi tanpa perlawanan kritis.
