Ketika Tuhan Menyuruh Berhenti

> “فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ، وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ”

Artinya: “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras (dalam ibadah), dan hanya kepada Tuhanmu berharaplah.” (QS. Al-Insyirah: 7–8)

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perhatikan bagaimana kata ‘fanṣab’ dalam ayat ini bermakna “berdiri” — seakan Tuhan ingin mengatakan: selesai urusan dunia, berdirilah untuk urusan akhirat. Selesai kerja, salatlah. Selesai lelah, zikirkanlah nama-Ku. Karena keseimbangan itu bukan sekadar disiplin, melainkan penyelamatan.

Manusia modern sering beranggapan bahwa waktu adalah uang, padahal waktu adalah nafas Tuhan yang dihembuskan ke dalam kehidupan.

Ketika waktu hanya diukur dengan produktivitas, maka doa kehilangan makna, dan manusia kehilangan kemanusiaannya. Itulah mengapa Islam menempatkan salat di tengah aktivitas — bukan di ujung hari. Ia bukan selingan, tapi poros kehidupan.

Salat dan wirid adalah revolusi paling tenang melawan kapitalisme yang gaduh. Ia menegakkan kemanusiaan dengan cara paling sederhana: dengan berhenti. Berhenti dari rutinitas, berhenti dari keserakahan, berhenti dari ilusi bahwa kita harus selalu bergerak agar berharga.

Maka jangan heran jika orang-orang yang rajin salat dan berwirid tampak tenang meski miskin. Mereka bukan malas. Mereka sedang menjaga hak tertua manusia: hak untuk bernapas, hak untuk berpikir, hak untuk kembali kepada Tuhan. Karena dalam dunia yang berlari terlalu cepat, hanya mereka yang mampu berhenti yang benar-benar sedang berjalan.

Dan barangkali, dalam keheningan salat itulah, manusia baru benar-benar produktif — sebab ia kembali menjadi ciptaan, bukan sekadar pekerja.

Lalu sekarang mari kita bertanya pada diri sendiri: Jika Tuhan sendiri memberi perintah untuk berhenti, untuk berdoa, untuk berzikir, lalu siapa sebenarnya yang memerintahkan kita untuk terus bekerja tanpa henti?

Tinggalkan Balasan