KH Abdul Hadi Zahid dikenal sebagai sosok yang penuh ketekunan dan optimisme. Berbekal ilmu dan pengalaman yang diterimanya dari berbagai pondok pesantren serta jargon yang dipegangnya “al-muhafadlotu ‘ala al-qodim as-sholih wa al-akhdhu bi al-jadid al-ashlah”, memelihara yang lama dan baik, di samping mengambil yang baru yang lebih baik. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Langitan dengan membawa perkembangan juga pembaharuan yang signifikan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, organisasi, sarana, dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan, pada 1949 M, beliau mulai mengenalkan dan mengembangkan sistem pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Falahiyah dan Madrasah Mu’allimin Langitan, di samping pengajian Sorogan dan Wetonan tetap dilestarikan.
Ketika terjadi masa peralihan pemerintahan dari pendudukan Belanda ke Jepang, seluruh kegiatan Pondok Pesantren Langitan sempat ditutup, karena sebagian siswa pulang kampung untuk bergerilya sedangkan kompleks Pondok Pesantren Langitan diduduki oleh tentara Jepang. Arsip dan dokumentasi Pondok Pesantren Langitan dirusak dan dibakar habis oleh Jepang.

Pada tahun 1945-1949, tepatnya pada masa revolusi, penutupan pondok pesantren terus berlanjut karena sebagian besar santri menggabungkan diri pada barisan Sabilillah yang bermarkas besar di Malang. Setelah masa revolusi, tahun 1961 M, pengajian Sorogan dan Wetonan kembali diselenggarakan, kali ini bukan hanya untuk santri putra, tetapi juga untuk santri putri. Madrasah Ibtidaiyah Falahiyah yang semula ditutup kembali diaktifkan pada tahun 1969 M. Di samping itu juga dibuka dan diselenggarakan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah.
Kepemimpinan Kiai Ahmad Zahid terus berlanjut. Berbagai kegiatan ekstra kurikuler diselenggarakan untuk menunjang kegiatan santri. Pengembangan organisasi disempurnakan dengan membentuk organisasi intren pondok pesantren, di antaranya adalah Jamiyatul Mubalighin, yaitu lembaga yang berfungsi sebagai tempat latihan berpidato yang didirikan pada tahun 1960 M. Jamiyyatul Qurro’ Wal Huffadz, yaitu lembaga yang berfungsi sebagai tempat latihan membaca Al-Qur’an, didirikan pada tahun 1961 M. KESPOL, yaitu organisasi keluarga pondok pesantren, berdiri pada tahun 1966 M. Majelis Bahtsul Masail al-Waqiah, yaitu lembaga forum diskusi dan mubahatsah yang membahas persoalan pemecahan hukum yang terjadi di masyarakat, didirikan pada tahun 1967 M.
Meningkatnya jumlah santri menjadi alasan sarana prasaran semakin ditingkatkan pula. Bangunan diperbaiki dan ditambahkan, seperti asrama bagi santri putra dan putri, gedung Madrasah Falahiyah, perluasan musholla, kamar mandi, sumur, dan sebagainya. Jumlah buku-buku pustaka ditambah, baik yang berbahasa Indonesia, Arab, maupun Inggris. Pada masa ini jumlah santri terus meningkat. Mereka datang dari berbagai daerah, seperti daerah-daerah di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Madura maupun Sumatera. Kala itu berjumlah kurang lebih 600 orang.
Kepemimpinan KH Abdul Hadi Zahid sebagai pengasuh Pondok Pesantren Langitan terbilang cukup lama, hal ini berlangsung selama kurang lebih 50 tahun. Sehingga tidak mengherankan jika pada masa kepemimpinannya, beliau berhasil membuat banyak sekali perubahan dan kemajuan signifikan bagi Pondok Pesantren Langitan. KH Abdul Hadi Zahid wafat pada tahun 1391 H/1971 M. Dimakamkan di kompleks pesarean keluarga di Desa Widang. Sepeninggalan beliau, kepemimpinan pondok pesantren Langitan digantikan oleh KH Ahmad Marzuki Zahid dan KH Abdullah Faqih.
