KH Abdul Karim: Anak Petani yang Membesarkan Pesantren Lirboyo

Manab memang sosok yang sederhana. Beliau gemar melakukan riyadlah; mengolah jiwa atau tirakat, sehingga seakan hari-hari beliau hanya berisi pengajian dan tirakat. Pada 1920-an beliau melaksanakan ibadah haji yang pertama kali. Setelah pulang dari ibadah haji, Manab berganti nama menjadi KH Abdul Karim.

Dengan tekun, rajin, dan tabah, Kiai Manab mengembangkan pesantrennya. Dalam satu dasawarsa sudah banyak kemajuan yang dicapai. Jumlah santri semakin bertambah. Mereka datang dari berbagai penjuru. Beliau kemudian merelakan sebagian tanahnya untuk dihuni santri. Hingga akhirnya pesantren yang sederhana tersebut menjadi Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada 1942-1945, KH Hasyim Asyari, KH Abdul Karim, dan para ulama sempat dipanggil ke Jakarta oleh Pemerintah Kolonial Jepang. Tujuannya adalah untuk membentuk Shumubu atau Jawatan Agama Pusat.  Lembaga inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kementrian Agama setelah kemerdekaan.

Kiai yang lahir di Magelang ini juga ikut berperan dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Bentuk perjuangan beliau adalah ikut menggembleng Barisan Sabilillah dan Hizbullah. Bukan hanya itu, beliau juga tiga kali mengirimkan para santrinya untuk ikut bertempur. Dua kali ke pertempuran Surabaya. Pengiriman yang pertama sebanyak 97 santri, sedangkan yang kedua 74 santri. Yang ketiga kalinya mengirimkan pasukan ke pertempuran Sidoarjo dengan jumlah 309 santri. Beliau juga sempat terlibat dalam pelucutan senjata tentara Jepang di Kediri.

Pada 1950-an, KH Abdul Karim menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Saat itu kondisi kesehatan beliau sudah tidak memungkinkan. Namun karena keteguhan hati akhirnya keluarga mengizinkan untuk menunaikan ibadah haji dengan ditemani sahabat akrabnya, KH Hasyim Asy’ari dan H Khozin, seorang dermawan asal Madiun.

Tinggalkan Balasan