“Coba lihat bukunya,” sapa Kiai Ahmad Safradji dan seketika menghentikan langkah santrinya. Santri itu kaget karena tidak biasanya seorang kiai pinjam buku pada santrinya. Dan setelah buku itu selesai ditengok, akhirnya Kiai Ahmad Safradji bilang lagi, “Bukunya saya pinjam sebentar ya.”
Berangkat dari kejadian tersebut, bagi penulis, Kiai Ahmad Safradji dalam dunia literasi tidak pernah membeda-bedakan antara santri dan kiai.

Kiai Ahmad juga dikenal sosok yang sangat mencintai para santrinya. Bahkan di masa-masa akhir hayatnya, ia tak bisa jauh dari santri-santrinya. Ketika kondisi tubuhnya sudah tak sehat lagi dan dokter menyarankan untuk banyak beristirahat, misalnya, Kiai Ahmad tetap sigap menjadi imam salat subuh.
Bahkan ketika sang istri, Nyai Hj Dewi Kholifah terpilih menjadi Wakil Bupati Sumenep, Kiai Ahmad Safradji tetap memilih tinggal di pondok alih-alih di rumah dinas wakil bupati. Itu merupakan salah wujud betapa cintanya Kiai Ahmad Safradji kepada santri-santrinya.
Karena kesehatannya terus menurun, pada Senin, 28 September 2020, keluarga besar Pondok Pesantren Aqidah Usymuni kehilangan sosok yang mencintainya untuk selamanya. Namun, kenangan akan Kiai Ahmad Safradji tak pernah hilang. Pesannya selalu hidup di hati para santrinya.
Kepada para santrinya, Kiai Ahmad Safradji selalu mewanti-wanti untuk senantiasa istikamah dalam belajar dan mengerjakan perintah Allah. Karena itu, menurutnya, kunci kesuksesan adalah istikamah.
