KH Ahmad Safradji, Istikamah dan Rajin Menulis

Seiring waktu berjalan, KH Ahmad Safradji dikenal sebagai sosok kiai rendah hati dan tetap haus akan ilmu. Ia tidak pernah merasa pintar. Bahkan, di tengah kesibukannya mengajar, merawat pesantren, dan berkelilingi ke berbagai daerah untuk menghadiri pertemuan alumni Pondok Pesantren Aqidah Usymuni, Kiai Ahmad Safradji masih menyempatkan diri untuk membaca kitab-kitab kuning dan bahkan berhasil menulis lima buku.

Lima buku karya Kiai Ahmad Safradji berjudul Problematika Fikih Kontemporer, Tantangan Masa Depan Pesantren, Mencari Formasi Manajemen Pendidikan Pesantren, Pendidikan Agama Islam dalam Mempersiapkan Generasi Muda Tantangan Global, dan Dinamika Pola Kepemimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Berbasis Pesantren.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Rupanya, membaca dan menulis dan merupakan salah satu kegemaran Kiai Ahmad Safradji, terutama menulis buku untuk menjawab persoalan masa kini, seperti persoalan fikih kontemporer dan lain sebagainya. Meskipun dalam usia sepuh, Kiai Ahmad Safradji tetap menyibukkan diri dengan berbagai bacaan, mulai kitab-kitab klasik, buku-buku, hingga koran dan majalah.

Menjadi seorang kiai dan pengasuh pondok pesantren juga tak membuat Kiai Ahmad Safradji memiliki sekat dengan masyarakat. Justru, posisi itu dimanfaatkannya sebagai jalan untuk menjalin hubungan yang harmonis antara kiai dan santrinya.

Dalam mengasuh santrinya, Kiai Ahmad Safradji tidak mengandalkan siapa pun dan memilih untuk turun lapangan sendiri. Seperti ketika sudah sampai waktu subuh, Kiai Ahmad Safradji tidak pernah sungkan untuk memasuki kamar para santrinya, dengan niatan takut ada santri yang tidak ikut saalat berjemaah.

Pernah suatu waktu, menjelang salat subuh tiba-tiba Kiai Ahmad Safradji memberhentikan salah satu santrinya yang berasal dari Pulau Giliyang. Kebetulan, santri itu sedang membawa suatu buku yang bertema fikih kontemporer.

Tinggalkan Balasan