Kiai Nur pekerjaan sehari-harinya adalah petani, sepetrti halnya masyarakat setempat. Namun, Kiai Nur juga tidak segan-segan membantu masyarakat yang kekurangan sambil lalu mengajari ilmu di kediamannya. Namun, sepertinya Belanda tidak berkenan atas apa yang dilakukannya. Hingga pada suatu hari Belanda memaksa Kiai Nur agar berhenti mengajari ngaji dan salat serta memberi makan kepada masyarakat. Tentu Kiai Nur menolak Belanda tersebut.
Hal itu membuat tentara Belanda marah dan memberi tenggang waktu sebulan. Jika setelah sebulan yang ditentukan tersebut Kiai Nur tidak menghentikan dakwahnya, maka nyawanya yang akan menjadi taruhannya.

Seperti di ceritakan oleh oleh Ny Rahmatun, hari demi hari pun berlalu. Masyarakat Moncek dan di luar Moncek tetap berdatangan untuk mengaji kepada Kiai Nur. Bahkan beberapa dari luar Madura seperti Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso. Melihat hal itu Belanda semakin meraja lela kemarahannya. Bahkan mulai tidak segan-segan mengancam masyarakat dan menyakitinya.
Salah satu ancaman mereka kepada masyarakat adalah akan segera menghabisi Kiai Nur. Masyarakatpun sedih dan mencari cara agar rencana Belanda tersebut gagal. Ada di antara mereka yang menggali sumur dangkal atau semacam jurang untuk menyembunyikan Kiai Nur dan keluarga kecilnya. Namun, Kiai Nur tidak mau bersembunyi. Sehingga masyarakat mulai menghawatirkan keselamatannya.
“Kita tidak boleh bersembunyi dari Belanda, mereka harus kita hadapi demi membela tanah air,” begitu jawaban Kiai Nur.
Hingga tibalah hari yang dijanjikan oleh Belanda untuk menangkap Kiai Nur setelah sebulan tetap tidak mengindahkan peringatan mereka. Namun demikian, Kiai Nur tetap tidak bersembunyi atau keluar dari desanya. Kiai Nur justru menggunakan caranya sendiri untuk mengelabui tentara Belanda. Ia berganti pakaian dengan memakai celana komprang dan topi petani yang terbuat dari anyaman pohon padi tanpa memakai kemeja. Hal tersebut bukanlah merupakan kebiasaannya. Sebab, biasanya Kiai Nur selalu memakai sarung, baju berwarna putih dan kopiah hitam.

Saya seringkali melewati “Gunung Pegga'” tiap kali berkunjung ke compok Kiai Ali Faruq. Semoga Beliau dan keluarga dalam keadaan sehat wal’afiat. Aamiin,,,
Alhamdulillah…Kauleh terro amainah keyah kapan2 ke panjenengan.
Dengan sangat senang hati, langsung ajak Kiai Ali Faruq, Beliau sdh hafal dengan lorong ke rumah saya.