KH Muhammad Nur (2): Selamat dari Kepungan Belanda

Hari itu, pasukan Belanda yang bermarkas di Kecamatan Lenteng mulai mendatangi Desa Moncek. Dengan ekspresi kemarahan, saat memasuki desa, pasukan Belanda berteriak-teriak memanggil-manggil nama Kiai Nur. “Nur! Nur! Nur!” dan kalimat-kalimat lain yang tidak dimengerti karena menggunakan bahasa Belanda. Wargapun berlarian berusaha semyembunyi dan menyelamatkan diri.

Hingga, tentara  Belanda pun mendatangi para petani yang sedang bekerja di sawah yang di antara mereka terdapat Kiai Nur. Dengan santai, Kiai Nur tetap mencangkul dan meneruskan pekerjaannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat mencangkul, Kiai Nur sambil membaca amalan yang terdapat di dalam Al-Quran yaitu surat Yaasiin ayat 9, “Wa ja’alnaa mim baini aidiihim saddaw wamin khalfihim saddan fa aghsyainahum fahum laa yubshiruun.” (Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding, dan di belakang mereka dinding pula, dan kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat).

Kiai Nur juga mengajarkan agar masyarakat membaca ayat tersebut. Ayat tersebut pernah dibaca oleh Nabi Muhammad saat berada dalam ancaman orang-orang kafir untuk membunuhnya.

Setelah seharian mencari dan menggeledah rumah-rumah penduduk di Desa Moncek, akhirnya tentara Belanda putus asa dan kembali ke markasnya. Mereka tak menemukan jejak Kiai Nur. Maka, selamatlah Kiai Nur dari sasaran pembunuhan kaum Belanda. Dan sejak  saat itu pula belanda tidak kembali lagi ke desa Moncek. Masyarakat pun bebas belajar salat dan mengaji.

Selanjutnya, masyarakat bergotong-royong kembali membangun masjid dan pondok yang sempat terhenti pengerjaannya. Dan berkat kegigihan Kiai Nur dan masyarakat pedalaman tersebut, maka berdirilah masjid untuk pertama kalinya, yaitu Masjid Baitul Muttaqin. Adapun, pesantren-pesantren peninggalan Kiai Nur di antaranya adalah Pondok Pesantren KH Muhammad Nur dan Pondok Pesantren Tarbiyatul Banat. Sedangkan, cucunya Alm KH Ali Makki yang ada di Besuki, Situbondo, juga membangun pesantren atas perintah Kiai Nur, yang bernama Pondok Pesantren Al-Ishlah. Ketiga pesantren tersebut sampai saat ini masih eksis dan terus berinovasi.

3 Replies to “KH Muhammad Nur (2): Selamat dari Kepungan Belanda”

Tinggalkan Balasan