“Kalau khatib sebelumnya masih mampu, kenapa harus diganti?” demikian sanggah Aba Husein dalam pertemuan tersebut. Tidak ada yang menanggapi. Orang-orang yang sebelumnya mengusulkan nama Ali, mendadak menciut nyalinya bila sudah berhadapan dengan Aba Husein.
Junaidi, yang juga menjadi bagian dari pengurus masjid angkat bicara. “Warga kita butuh sosok inspirator baru. Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kepada yang lebih muda. Toh, anak muda yang nantinya akan memakmurkan masjid jika kita-kita yang di sini sudah pada sepuh,” lontarnya.

Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Junaidi. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam, yang juga barangkali keinginan para jemaah. Telah lama ia ingin kampungnya memiliki sosok yang benar-benar mengerti kebutuhan umat. Nilai ilahiyah memang penting, sebagaimana yang sering dikatakan Aba Husein agar umat senantiasa ingat kepada sang Pemilik Hidup. Namun, nilai insaniyah juga diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya perpecahan umat di tengah gonjang-ganjing kondisi umat Islam saat ini.
Tetapi, ia selalu tidak punya kesempatan untuk mendebat Aba Husein, bukan karena tidak berani, namun ia takut dianggap tidak sopan kepada yang lebih tua. Maka ketika petang itu sekretaris masjid mengumumkan mengadakan pertemuan, Junaidi lekas-lekas menyampaikan pendapatnya.
Aba Husein tidak mendebat. Itu artinya, mulai pekan berikutnya ada dua nama yang akan bergantian mengisi khotbah Jumat.
***
“Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala sesuatu yang sulit diraih, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat, hal-hal yang menyenangkan manusia.”
Junaidi kembali menyimak. Tangannya menepuk-nepuk perut. Cacing-cacing di dalamnya mulai anarkis minta jatah. Ia tahan sebisa mungkin agar suaranya tidak sampai ke telinga jemaah lain. Bila di sawah, waktu-waktu serupa itu Junaidi akan membakar ketela pohon atau jagung di pematang dan memakannya panas-panas.
Junaidi beralih mendongak ke atas sebentar, memperhatikan baling-baling kipas yang berputar tak beraturan di atas ubun-ubunnya. Kadang berputar, kadang diam, menciptakan suara bising yang tersendat-sendat. Kipas sudah lama rusak, namun belum sempat diperbaiki atau digantikan yang baru.
Belum jua hilang keroncongan di perut, apalagi rasa pegal di bokongnya karena kelamaan duduk, dua-tiga nyamuk berdengung-dengung mengitari telinganya. Sesekali telapak tangannya menampari lengan dan kaki sendiri ketika nyamuk singgah di atas kulitnya yang kering dan legam terbakar matahari. Ia juga tidak habis pikir, tidak di sawah, tidak di masjid, nyamuk-nyamuk begitu membabi buta mencumbui kulitnya.
Lain dari itu, pikiran Junaidi melompat jauh, teringat padinya yang sudah mulai merunduk. Tiap hari ia ke sawah, mengusir burung liar yang memakan padi-padinya. Junaidi nyaris di sawah sepanjang pagi, sore, petang, acapkali malam kalau menjaga air untuk mengairi sawah yang tengah disemai padi. Namun, jika tiba panggilan menyeru, ia tinggalkan sejenak sawahnya dan gegas membawa kakinya menghadiri panggilan salat.
