“Jemaah Jumat rahimakumullah Mari bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar senantiasa dianugerahi taufik dan hidayah-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba yang kelak menghuni surga-Nya.”
Khotbah Aba Husein makin berapi-api.

Selembar kertas HVS masih tertempel di salah satu dinding masjid. Kertas yang berisi jadwal khatib dan imam yang disepakati ketika pertemuan pengurus masjid. Aba Husein telah menjadi khatib pekan sebelumnya. Itu artinya kini giliran Ali yang bertugas. Namun, tanpa disangka-sangka Aba Husein justru mendahului naik ke atas mimbar ketika Ali tengah menyelesaikan salat qobliyah Jumat.
Junaidi menghitung-hitung angka dengan jemarinya, serupa zikir untuk mendinginkan tubuhnya yang panas. Ia melirik jam dinding satu-satunya yang terpampang di salah satu sisi masjid. Hampir satu jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda Aba Husein mengakhiri khotbah pertamanya. Aba Husein seolah hanya ingin mendengar omongannya sendiri, tidak peduli jemaah sudah mengantuk dan bosan, atau bahkan memiliki keperluan lain yang tidak kalah penting.
Di tengah ceramah Aba Husein yang berapi-api, mendadak ada suara deham tiga kali; sebuah penanda untuk mengingatkan Aba Husein agar tidak terlalu lama dan panjang. Namun, bukannya mengerti maksud dari deham tersebut, Aba Husein justri mendobrak meja mimbar. Ia perhatikan satu per satu wajah jemaah yang seolah mengabaikan dirinya.
Jika Ali yang menjadi khatib, biasanya hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja. Ia akan menyampaikan fokus pada hal penting, bukan menyampaikan sebanyak-banyaknya. Namun, penyampaiannya tetap berkesan. Sebab, bukan berarti yang banyak itu hal penting.
Junaidi mengelap wajahnya. Batinnya pun hendak berkata: khotbah Jumat disunnahkan untuk tidak terlalu lama. Bahkan sebaliknya, khotbah dipersingkat dan bacaan salat diperpanjang. Tapi, bukan berarti khotbah yang singkat tapi mereduksi makna. Namun, terasa kelu lidahnya. Junaidi hanya menyimpannya rapat-rapat.
Junaidi terkesiap tatkala ikamah dikumandangkan dan Aba Husein turun mimbar. Saf-saf diluruskan. Imam segera mengangkat takbir. Ayat suci merdu keluar dari bibir sang imam.
Matahari siang itu kian tergelincir bersama wajah Junaidi yang terus berkeringat sembari menjaga konsentrasi untuk menyelesaikan salat Jumat hingga salam. Kendati tak dapat dimungkiri, pikirannya kacau jika terbayang sudah berapa banyak burung yang telah melumat habis padinya.
Peluh membanjiri pelipisnya. Junaidi kembali mengelap kening. Entah berapa banyak keringat berguguran menimbulkan bercak bulat-bulat di atas kain sajadahnya. Bersamaan dengan itu, kecemasan Junaidi disudahi suara jemaah yang terdengar nyaring, bahkan bisa dibilang riuh. Mereka bersama-sama mengucap, “Aamiin.”
KOMPAK Yogyakarta, Februari 2022.
