“Kata siapa rokok itu haram! Kalau masalah kesehatan, itu etekmu di rumah tidak merokok mati juga. Aku merokok tiap hari sehat-sehat saja, nih,” katanya membuyarkan konsentrasi kami.
Rupanya, yang dimaksud Ayah Syafi’i adalah istrinya yang telah meninggalkan terlebih dahulu kendati ia bukan perokok. Sedangkan, dirinya sehat walafiat meskipun perokok berat. Mungkin, ia kesal dengan argumen Ayah Pasiribu yang menekankan unsur kesehatan dalam mengharamkan rokok.

“Kalau mau mati, ya mati saja,” tambahnya kemudian.
Meskipun keduanya saling berbeda pendapat, tidak pernah sekalipun saya melihat mereka berdua saling menjelekkan, apalagi menjatuhkan. Mereka tetap saling menghormati satu sama lain, yang membuat kami tidak memiliki kecenderungan kepada salah satunya.
Ayah Syafi’i meninggal dunia lebih dulu beberapa tahun setelah saya lulus dari Purba. Sedangkan, Ayah Pasaribu meninggal tahun 2021 silam. Semogo Allah merahmati keduanya dan mempertemukan mereka di surga. Amin, ya, rabbal ‘alamin.
