Kiai Asep menyadari, dirinya bukan tergolong sebagai orang yang super kaya, konglomerat, atau triliuner. Namun, itu tak membuatnya menjadi penghalang untuk membantu menyejahterakan masyarakat.
“Kalau di Mojokerto mungkin saya konglomerat nomor 10. Tapi kalau di Indonesia saya nomor satu juta,” kata Kiai Asep sembari tertawa, seperti dikutip bangsaonline.com. Namun, imbuhnya, ia tak mau kalah dalam bersedekah dan membantu pemerintah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di mata Kiai Asep, ada empat pilar negara dan bangsa bisa makmur. Pertama, jika birokrat selaku pelaksana pemerintahan mengamalkan ilmu para ulama dan ilmuwan. Kedua, pemerintah yang adil. Ketiga, konglomerat yang peduli terhadap masyarakat. Keempat, orang miskin yang selalu mendoakan pemimpinnya.
“Kalau konglomerat loman, suka bersedekah, para buruh, orang miskin tak akan demo. Mereka justru mendoakan para pemimpinnya,” katanya.
