Penulis juga pernah mendapatkan cerita bahwa Kiai Dim adalah sosok yang humoris sekaligus romantis. Hingga usia beliau sepuh, beliau masih seringkali menjahili istri beliau dengan berbagai tindakan yang lucu dan jenaka. Selain itu, Kiai Dim juga sosok yang romantis terhadap keluarga, terutama kepada istri beliau, Ibu Nyai Muflichah.
Sejak Kiai Dim menikah hingga wafat, beliau tidak pernah mengeluh dan mengomentari apapun makanan yang dihidangkan oleh bu nyai. Meskipun lauknya sederhana atau masakanya keasinan, Kiai Dim tetap dahar tanpa mengeluhkan apapun. Dari situ Kiai Dim meneladankan rasa beryukur tentang apapun yang Allah berikan.

Terlepas dari kehidupan beliau sebagai seorang pimpinan pesantren, semasa beliau hidup, Kiai Dim istikamah sebagai mursyid tarekat, mengurus umat, dan memimpin pesantren sekaligus politisi. Kiai Dim merupakan sosok representasi dari wajah tradisional pesantren sekaligus dengan wajah kemodernan masyarakat Indonesia. Beliau adalah kiai yang berpikiran maju dan senantiasa mengikuti perjalanan bangsa Indonesia dengan baik.
Banyak hikmah dan uswah yang bisa kita petik dari sosok Kiai Dim. Bilamana kita sering mendengar kalimat “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama,” tentu saja itu adalah peribahasa. Manusia mati meninggalkan nama pada faktanya tidak hanya meninggalkan nama saja, tetapi juga nilai-nilai yang diteladankan kepada generasi selanjutnya. Begitu juga Kiai Dim, beliau meninggalkan legacy besar bagi kita berupa uswah kesederhaan serta ghirah untuk selalu mewakafkan diri kita untuk kepentingan umat. Selamat jalan Kiai Dim, semoga kami dapat meneruskan perjuangkan dan semangat panjenengan.
