Dari saking alimnya di bidang ilmu agama, Kiai Ghazali menjadi rujukan utama bagi masyarakat Kangean, tak terkecuali para dai, pejabat, dan lain-lain.Terbukti, ndalem (rumah) Kiai Ghazali tak pernah sepi didatangi para tamu, mulai dari tamu kelas papan atas hingga akar rumput (masyarakat kelas bawah) dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda.
Dalam mempelajari ilmu, Kiai Ghazali tidak sekadar mendalami ilmu agama, melainkan juga ilmu-ilmu umum, seperti ilmu politik, pemikiran Islam kontemporer, sejarah Indonesia, kajian orientalis, dan lain sebagainya. Maka tidaklah berlebihan jika Kiai Ghazali dijuluki sebagai “raksasa genius” dari Pulau Kangean. Bahkan, Kiai Ghazali juga dikenal sebagai seorang filosof dan intelektual Islam kontemporer.

Selain itu, Kiai Ghazali juga termasuk ulama yang produktif dalam menghasilkan karya. Karya tulisnya kurang lebih 10 kitab. Salah satunya adalah Sabilul Jannah, kitab fikih ibadah praktis dan mudah untuk dipahami. Menariknya, kitab ini ditulis dalam bentuk Arab pegon meskipun bahasanya menggunakan bahasa Madura. Tentu, tujuannya tidak lain dan tidak bukan untuk mempermudah bagi para pemula yang hendak belajar kitab kuning, khususnya masalah ibadah. Dalam kolofonnya, kitab ini dianggit pada waktu Kiai Ghazali berada di Pondok Pesantren Sukorejo, Situbondo bersanding dengan karya KH As’ad Syamsul Arifin, bertajuk Isra’Mi’raj.
Cara Dakwah Kiai Ghazali
Sebagai seorang yang alim, khususnya di bidang ilmu agama, tentu saja Kiai Ghazali memahami betul bahwa ilmu yang dimilikinya bukan sekadar untuk pribadinya (tidak disebarkan). Tetapi, bagaimana bermanfaat terhadap orang lain. Karena, hakikat dari ilmu sendiri adalah untuk diamalkan dan disebar-luaskan kepada seluruh umat manusia.
Pun, dalam menyebarkan ilmu (memberikan pendidikan) kepada masyarakat, tentu memerlukan suatu metode atau strategi yang tepat agar tujuan yang dikehendaki bisa tercapai. Begitu pula dengan Kiai Ghazali, yang mencoba merumuskan metode yang layak (tepat) digunakan sebagai strategi untuk menyebarkan ilmu disesuaikan dengan kehidupan masyarakat. Di antara metode tersebut adalah; ceramah (bil lisan) dan keteladanan atau praktik (bil hal).
