Kiai Ghazali Ahmadi yang Berjuluk Raksasa Genius

Dengan bil lisan, Kiai Ghazali memberikan pengajian kitab kuning (karya-karya ulama klasik) terhadap masyarakat. Di antara kitab yang diajarkan adalah Safinatu an-Najah, Sulamu al-Taufiq, Syarah al-Hikam, dan lain sebagainya. Selain melalui pengajian, beliau juga menempuh jalur “ceramah” dalam menyebarkan ilmu.

Yang tak kala menariknya dalam menyebarkan ilmu, Kiai Ghazali tidak melulu sekadar menempuh jalur “ceramah” dan “pengajian kitab kuning”. Tetapi juga memberikan keteladanan atau praktik konkret (bil hal) kepada masyarakat. Bahkan, Kiai Ghazali mengaksentuasikan praktik daripada ucapan. Sebab, menurutnya, praktik (keteladanan) lebih efektif dan mudah diterima daripada ucapan. Apalagi, objeknya adalah masyarakat Kangean yang notabene masyarakatnya adalah pekerja keras.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, dalam menyebarkan ilmu tentu seseorang akan menemui pelbagai rintangan, ancaman, dan cacian dari masyarakat begitu. Pun, dengan Kiai Ghazali. Bagi Kiai Ghazali, rintangan, ancaman, dan cacian tersebut sudah menjadi “makan setiap harinya”. Bukan sedakar fisik, melainkan juga psikis dan bahkan tak jarang Kiai Ghazalidiserang melalui ilmu gaib.

Akan tetapi, hal tersebut tidak menggoyahkan sedikit pun ghirah Kiai Ghazali untuk menyebarkan ilmu. Karena, Kiai Ghazali memahami betul bahwa mendidik umat bukanlah sesuatu hal yang mudah, tetapi memerlukan keteguhan, kesabaran, pengorbanan, dan ketabahan dengan disertai konsistensi yang kuat dalam diri seseorang.

Kegigihan yang kuat dengan ditopang sifat kesabaran dan ketabahannya, lambat laun masyarakat Kangean sudah mulai menerima kehadiran Kiai Ghazali. Alhasil, masyarakat yang awalnya “jahiliyah” berubah menjadi masyarakat yang beradab, berakhlak, serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan bahkan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-harinya hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan