Kiai Imad, Penulis Kitab yang Produktif

Saat berusia 15 tahun, ia dikirim ke Pesantren Ashabul Maimanah Sampang Tirtayasa, Serang, di bawah asuhan Syekh Muhammad Syanwani bin Abdul Aziz dan adik serta dua orang menantunya, yaitu KH Marqawi dan KH Suhaimi. Di sana, ia mengaji serta meneruskan belajar hingga jenjang aliyah.

Saat itu, Kiai Sanwani merupakan seorang ulama yang produktif menulis. Salah satu kitabnya yang mashur dan digunakan oleh alumninya yang mendirikan pondok adalah Kitab Babe Nenem.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kitab ini berfokus pada pembahasan ilmu morfologi (saraf) dan diawali dengan dua puluh tujuh bait nadzom yang mencakup keseluruhan pembagian-pembagian wazan dalam ilmu saraf dengan menggunakan logat jawa.

Setelah tiga tahun lamanya ia mengemban ilmu di Pesantren Ashabul Maimanah Sampang, ia pun melanjutkan pembelajaran di Pesantren Riyadul Alfiyah Kadukaweng asuhan Syekh Mama Sanja. Dan setelah menamatkan beberapa kali kitab Alfiyah, ia kembali lagi ke Pesantren Ashabul Maimanah selama beberapa bulan. Setelah itu, ia berguru kepada Syekh Mufti bin Asnawi untuk menimba ilmu di Pesantren Cakung Srewu selama dua tahun.

Sesudah manamatkan kitab-kitab dan mengambil barokah Syekh Mufti Asnawi, ia pun melanjutkan pembelajarannya di Pondok Pesantren At-thohiriyyah Kaloran Serang asuhan Kiai Tubagus Hasuri bin Thohir. Saat bersamaan, Kiai Imad kuliah selama empat tahun di Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Tinggalkan Balasan