Kiai Imad, Penulis Kitab yang Produktif

Setelah belajar di berbagai pesantren untuk mengkaji, mengasah, dan memperdalam ilmu-ilmu agama, seperti yang dilakukan oleh Syekh Nawawi Al-Bantani, Kiai Imad kemudian ia belajar kepada para syekh di Kairo Mesir. Sepulang dari sana, pada 2002 Kiai Imad mendirikan Pesantren Nahdlatul Ulum. Melalui pesantren yang dirintisnya, Kiai Imad ingin banyak melahirkan generasi pewaris para nabi yang siap mengemban amanah ilmiah dengan bekal akhlak seorang sufi dan mental seorang pejuang, sesuai motto pesantrennya, “Berakhlak Sufi Bermental Pejuang”.

 Menulis Kitab

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Selain mengasuh pesantren, Kiai Imaduddin Ustman juga banyak menghabiskan waktunya untuk menulis kitab. Salah satu kitabnya yang terkenal dan banyak dikaji dan tersebar di beberapa pondok pesantren adalah Kitab Al-fikroh An- Nahdiyyah. Kitab setebal 250 halaman yang ditulis dalam Bahasa Arab ini membahas dasar-dasar pemikiran Ahli Sunnah Wal Jama’ah berikut masalah-masalah fikih kontemporer, khususnya pada zaman modern ini. Dengan metode tulisannya yang baik, kitab ini pun diterima dengan baik oleh tokoh-tokoh besar, khususnya kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Hingga kini, sudah belasan kitab kuning yang ditulis Kiai Imad.Sebutlah kitab Asy-Syauqah fi Risalat al-shorfiyyah yang menerangkan tentang ilmu saraf atau kitab Tuhfatuttolibin fi Matholibil Mubtadiin yang menerangkan masalah-masalah fikih. Ada juga kitab tasawuf berjudul At-Ta’aruf fi Ilmittasawwuf, dan masih banyak lagi.

Kini, Kiai Imad tercatat sebagai salah satu ulama di Indonesia masa kini yang produktif menulis kitab, meneruskan tradisi ulama terdahulu, sekaligus mewariskan tradisi keilmuan kepada generasi santri yang akan datang.

Tinggalkan Balasan