Sebagai mubaligh, beliau jauh dari kategori humoris. Karenanya, tak memenuhi kualifikasi sebagai seorang penceramah hebat. Sehingga, mendengar ceramah Kiai Qasdussabil seperti sedang mendengarkan kiai membaca kitab kuning di pesantren. Beliau bisa melompat-lompat mengutip dalil, dari Nadham Zubat ke teks Nashoihul ‘Ibad dan Ihya’ Ulumiddin. Bahkan, di beberapa tempat tak jarang beliau mengurai ayat Al-Quran dari sudut Balaghatil Quran yang sulit dikunyah orang kebanyakan.
Kendati kemampuan berceramahnya tak memenuhi kualifikasi, tapi kealimannya di bidang ilmu agama diakui banyak kalangan baik kiai maupun masyarakat umum. Bukan hanya di Kangean, melainkan di pesantren tempat Kiai Qasdussabil belajar dulu, yaitu PP Sukorejo Asembagus Situbondo. Kiai Afifuddin Muhajir (Situbondo) misalnya, yang dikenal pakar ushul fikih dari timur itu, mengakui akan kealimannya. Bahkan, Kiai Afif pernah belajar Lubbul Ushul kepadanya.

Tak hanya mengajar Lubbul Ushul, ketika Kiai Qasdussabil masih menjadi ustaz di Pesantren Sukorejo, beliau membuka pengajian kitab-kitab babon seperti Fathul Wahab, Iqna’, Ibnu Aqil, dan lain-lain. Saking mendalamnya penguasaan Kiai Qasdussabil terhadap fikih, qawaid fikih, dan ushul fikih mengantarkannya menjadi sosok kiai yang berpikiran moderat, inklusif, dan modern.
Berkat perjuangan gigih para kiai kampung dalam mendakwakan Islam yang jauh dari pusat kota, ditopang dengan kesabaran dan keikhlasan itu, akhirnya banyak masyarakat yang mengenal dan memahami ajaran Islam. Bahkan, mereka mampu memproduksi orang-orang hebat yang kemudian menjadi pilar-pilar penting di dalam percakapan Islam di Indonesia. Ini berarti, mereka tidak hanya mendakwakan Islam namun juga mempersiapkan kader-kader ulama masa depan. Bukan hanya alim di bidang ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga ilmu lain seperti pertanian, peternakan, pertukangan, dan lain-lain.
Jelas, kontribusi kiai kampung sangat besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia. Karena itu, kita patut memberikan apresiasi yang sangat besar pula terhadap perjuangan mereka. Sebab, mengutip pendapat Gus Ulil Abshar Abdallah ketika menyampaikan doa dan takziah atas berpulangnya ayahanda KH Abdul Moqsith Ghazali, yaitu KH Ghazali Ahmadi, kedudukan kiai-kiai kecil (kampung) kadang-kadang jauh lebih penting daripada kiai-kiai besar. Karena, dari hasil perjuangan merekalah lahir orang-orang hebat. Memang, peran mereka tidak kelihatan, tetapi hasilnya dapat dilihat dan dinikmati orang kebanyakan. Wallahu A’lam.
