Kiai Kampung dan Perkembangan Islam di Indonesia

Tak ayal, ketika selesai mengajari santrinya di pagi hari, Kiai Syarfuddin menggunakan waktu luangnya itu untuk pergi ke sawah dan kebun miliknya bersama para santri. Selain untuk memastikan tanamannya dalam keadaan baik-baik saja, juga dalam rangka memberi keteladanan terhadap para santrinya bahwa: tugas seorang santri bukan hanya mengaji kitab, melainkan juga belajar menjadi orang yang mandiri dengan cara bertani.

Sementara sosok yang berperan sebagai penyerang, adalah KH Abdul Adhim Cholil (1930-1992), pendiri PP Al Hidayah Arjasa, Kangean, Sumenep. Beliau tidak hanya fokus mendidik santri-santrinya, tapi juga tampil menjadi seorang mubaligh. Bahkan, aktivitas kesehariannya lebih banyak dihabiskan wira-wiri ke mana-mana untuk berdakwah daripada menjadi seorang pengasuh pesantren. Jangkauan dakwahnya tak hanya di Kecamatan Arjasa tempat Kiai Abdul Adhim tinggal, namun merambah ke pelosok pedesaan di Kangean yang sangat terisolasi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski menjadi mubaligh, tapi tak seperti para mubalig pada umumnya yang kerap duduk di sadel sepeda motor apalagi sofa mobil-mobil mewah. Beliau hanya bermodalkan kuda sebagai tunggangannya. Terkadang, juga menaiki perahu demi mendakwahkan Islam. Jangan bertanya berapa finansial yang diperolehnya. Tapi, tanyalah berapa banyak beliau memperoleh caci-maki. Ala kulli hal, payah di atas payah.

Walau demikian, ghirah untuk menyebarkan Islam tak pernah susut. Alih-alih merasa lelah, justru spirit untuk mendakwahkan Islam semakin berkobar dalam dirinya dari waktu ke waktu. Sebab, hal yang paling diingat dalam hati Kiai Abdul Adhim adalah dawuh gurunya, yaitu KHR As’ad Syamsul Arifin Sukorejo, Situbondo: “Jika tak mau repot, jangan berjuang. Perjuangan selalu membutuhkan pengorbanan.” Dawuh gurunya inilah yang menjadi spirit beliau untuk tetap konsisten mendakwakan Islam sekalipun harus mengorbankan nyawa.

Tokoh lain yang juga berperan sebagai penyerang yaitu KH Mohammad Qasdussabil (1943-2012), pendiri PP Sabiliyah Arjasa Kangean Sumenep. Seperti umumnya kiai pesantren, hari-hari Kiai Qasdussabil dipenuhi dengan aktivitas bermanfaat buat umat. Sepulang dari kantor Pengadilan Agama Arjasa, Kangean, Sumenep (maklum beliau menjadi hakim di kantor ini), waktunya dikhususkan untuk mengajari santri dan bahkan hingga larut malam.

Kiai Qasdussabil bukan tipe kiai yang aktivitas kesehariannya hanya berkutat antara rumah (mendidik santri) dan kantor. Beliau aktif bergerak ke luar dengan tampil sebagai mubalig. Tapi, tak seperti umumnya para mubalig, ceramah beliau cenderung monoton dan tak jarang membosankan. Sebab, pesan-pesan yang disampaikan cukup ringkas berupa pokok-pokok pikiran, juga intonasinya datar, dari awal hingga akhir.

Tinggalkan Balasan