Alkisah, pada suatu waktu para petani sowan kepada Syaikhona Kiai Kholil Bangkalan. Musababnya, berulang kali para petani timun ini kehilangan timun mereka yang siap dipanen. Saban mau memanen timun, mereka kecewa lantaran sudah digasak lebih dulu oleh para pencuri, entah siapa mereka.
Saat sampai di kediaman Kiai Kholil, mereka mendapati Syaikhona Kholil sedang mengajar kitab Jurumiyah pada santri-santrinya. Seusai menjawab salam mereka, Syaikhona Kholil bertanya apa keperluan mereka. Mereka pun menceritakan apa yang mereka alami dan meminta penangkalnya agar tak ada lagi pencuri timun.

Karena kitab yang dibacanya sampai pada frasa “qoma zaidun” yang berarti Zaid telah berdiri, Syaikhona Kholil pun mengijazahi mereka untuk membaca frasa tersebut. Mula-mula mereka agak ragu, lalu menanyakan: “Sudah, itu saja, Pak Kiai?”
