Di tengah diskusi santai (yang kadang kala membuat saya merasa bukan bagian dari diskusi tersebut karena saya selalu merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa) beliau kerap bertanya apa yang saya pikirkan dan bagaimana pendapat saya. Meskipun pada akhirnya, semua yang hadir lebih banyak mendengarkan, tapi cara beliau ngewongko orang lain dengan memberi kesempatan bersuara sangat membekas di hati.
Saya yakin semua orang yang mengenal beliau mengenang dengan cara berbeda-beda. Tapi bagi saya pribadi, tentang Kiai Masroni adalah tentang kebaikan semata. Meskipun kehilangan dan cukup menyesal karena belum lagi terpenuhi kesempatan untuk sowan lagi kepada beliau, tidak ada lain yang bisa kita lakukan kecuali memanjatkan doa-doa semata. Kagem Kiai Muhammad Masroni, Al-fatihah…

