Perkenalan saya dengan Kiai Roni awalnya hanya sekadarnya saja. Berawal dari pengajian Jumat Kliwon di Kanzus Sholawat Pekalongan bersama Mawlana Habib Luthfi bin Yahya yang sesekali saya ikuti. Puncaknya, menjelang acara maulid akbar pertama yang saya ikuti, sekitar 2014-an, intensitas bertemu Kiai Roni semakin sering.
Karena teman-teman saya banyak yang menjadi panitia dan mereka kerap mengadakan rapat di ndalem Kiai Roni, saya pun seringkali ikut mengekor meski kadang hanya menjadi pendengar setia saja. Selama beberapa waktu itu, saya bolak-balik Yogyakarta-Pekalongan-Semarang-Cirebon. Kadang, saya menginap di Pondok Pesantren SGJB dan kadang menginap di Kanzus Sholawat.

Meskipun, perkenalan dan pertemuan dengan beliau singkat belaka, jika dibandingkan sahabat-sahabat saya yang bertahun-tahun berkhidmat pada beliau, tapi satu hal yang tidak akan pernah saya lupakan tentang Kiai Roni: sebagai perempuan minoritas di antara santri-santri yang didominasi laki-laki, saya tidak pernah sekalipun diremehkan atau dipandang sebelah mata.
