Anehnya, tentara Belanda yang berseliweran di sekitar pesantren tidak melihat Kiai Ilyas yang sedang mengajar kitab di masjid. “Itu adalah sala satu kejunelan (karomah) Kiai Ilyas Syarqawi,” demikian Kiai Rahman menjelaskan.
Sebenarnya, target tentara Belanda adalah untuk menangkap Kiai Sajjad. Akan tetapi, pada saat itu, Kiai Sajjad telah menyelamatkan diri dengan dibantu oleh masyarakat yang ada di sekitar sana. Maka Belanda pulang dengan tangan hampa. Karena Kiai Sajjad yang menjadi tujuan utama penangkapan telah pergi untuk menyelamatkan diri.

Menurut cerita, Kiai Sajjad berjuang dengan cara bergerilya. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, menyusun siasat perjuangan, agar tidak terdeteksi oleh tentara Belanda. Perjuangan secara gerilya ini memang seringkali menjadi momok bagi penjajah. Sebab, gerilya adalah berperang secara diam-diam, menyerang dalam sunyi, dan seringkali tidak diterbaca oleh tentara Belanda. Perjuangan semacam ini begitu ditakuti oleh penjajah, khususnya penjajah Belanda.
Akan tetapi, pada akhirnya sifat licik Belanda dapat dijadikan sarana untuk menangkap Kiai Sajjad. Dengan memanfaatkan para pecundang, orang pribumi yang gila akan kekayaan, dengan dibayar beberapa receh saja sudah mau bekerja sama dengan penjajah.
Demikian juga yang terjadi dengan Kiai Sajjad. Karena dikelabuhi oleh orang-orang licik, picik, dan hipokrit, akhirnya Kiai Sajjad keluar dari persembunyiannya. Melalui sepucuk surat yang ditengarai dibuat oleh orang-orang penjilat, akhirnya Kiai Sajjad mau berkunjung ke Pesantren Annuqayah yang memang sangat dirindukannya. Setelah sekian lama dalam gerilya, akhirnya Kiai Sajjad kembali ke kediamannya.
Dan itu juga yang menjadi akhir perjuangan Kiai Sajjad. Sebab, sesaat setelah Kiai Sajjad tiba di pesantren, beberapa tentara Belanda datang dan menangkapnya. Semula masyarakat banyak di sekitar pesantren, termasuk juga para santri yang ada di pesantren saat itu, berupaya membuat pagar betis untuk melindungi Kiai Sajjad. Tetapi, dengan ksatria, dan tidak ingin terjadi pertumpahan darah, Kiai Sajjad dapat meredam masyarakat yang telah siap mengorbankan jiwa dan raga.
“Kalian tetap tenang di sini. Jagalah pesantren dari bahaya yang mengintai. Aku akan selamat dalam perjalanan dan perjuangan ini,” demikian Kiai Sajjad mendinginkan suasana.
Malam itu juga, Kiai Sajjad dibawah ke markas tentara Belanda di Kemisan. Ini nama sebuah tempat di mana Kiai Sajjad pada akhirnya dieksekusi oleh Belanda dengan gelegar tembakan yang menyayat.

الهم اغفر له واحمه وعافه واعف عنه
Pahlawan sekaligus ulama Nusantara
Aamiin ya Robbal alamin,,,
Tulisan ini mengingatkan pada masa lalu, waktu ngaji di Astah kiai Abdullah Sajjad.
Semoga barokah Beliau selalu mengiringi hidup kita dunia dan akhirat. Aamiin!