Namun, sesaat sebelum eksekusi dilakukan, Kiai Sajjad hanya menginginkan dua permintaan. “Setelah kalian membunuhku, segera angkat kaki dari daerah ini. Juga, izinkan aku salat sebelum ajalku melayang,” begitu Kiai Sajjad berkata tegas tanpa ada sedikit pun keraguan. Kedua permintaan itu disetujui oleh Belanda.
Dengan khusyuk, Kiai Abdullah Sajjad melaksanakan salat. Dua rakaat, kemudian ditambah dua rakaat lagi. Dan begitu seterusnya, hingga karena tidak sabar, dalam keadaan sujud Kiai Sajjad dihantam tembakan peluru sebanyak tiga kali.

Di malam yang senyap, roh suci itu melayang, diantar ribuan malaikat menuju hadirat Ilahi Robbi. Darah itu memancarkan semburat kudus/suci, merebak membasahi pertiwi, menguarkan seharum bunga di telaga surga.
KH Abdullah Sajjad meninggal dunia bertepatan dengan hari Selasa, 20 Muharram 1367 H atau 3 Desember 1947 di tangan tentara Belanda. Ketua Barisan Sabilillah itu gugur pada masa Agresi Belanda II.
Sebagai bentuk penghormatan dan bukti sejarah, di tempat ini didirikan tugu atau monomen sejarah perjuangannya dengan tulisan: Di Sini Pada Tanggal 03 Desember 1947 K.H. Abdullah Sajjad Syarqawi Ketua Barisan Sabilillah Gugur Sebagai Syahid Pada Masa Agresi Belanda II.
Itulah sejarah ringkas pejuang kemerdekaan KH Abdullah Sajjad, yang rela mengorbankan jiwa dan raga, ikhlas menumpahkan darah demi tegaknya kemerdekaan Indonesia. Masih dalam suasana Hari Kemerdekaan RI ke-76 ini, mari kita isi kemerdekaan dengan semangat membangun bangsa dan negara, menuju bangsa yang tumbuh dan tangguh. Sebagimana amanat HUT RI ke-76, 17 Agustus 2021, yaitu “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.”
Wallahu A’lam!

الهم اغفر له واحمه وعافه واعف عنه
Pahlawan sekaligus ulama Nusantara
Aamiin ya Robbal alamin,,,
Tulisan ini mengingatkan pada masa lalu, waktu ngaji di Astah kiai Abdullah Sajjad.
Semoga barokah Beliau selalu mengiringi hidup kita dunia dan akhirat. Aamiin!