“Hampir setiap kali tidur saya bermimpi aneh, Kiai.”
“Mimpi apa?” adik bungsu Kiai Zaini yang sudah tampak renta itu kembali bertanya.

“Saya melihat cahaya terang bersinar di Pesantren Futuhiyah. Di tengah cahaya itu kulihat ada pohon kelapa berdiri menjulang. Aku melihatnya dari kejauhan betapa rindang daun dan tandan buah kelapa itu. Namun, tiba-tiba pohon kelapa itu roboh, dan cahaya itu kemudian meredup. Dan tampaklah ada sebuah tunas kecil tidak jauh darinya. Tunas itu kemudian membesar dan kemudian tumbuh menjulang. Cahaya pun terang kembali. Namun, setelah aku dekati pohon kelapa itu roboh kembali, dan cahaya itu semakin redup. Lalu kulihat ada tunas lagi di sebelahnya. Kemudian tunas itu tumbuh membesar dan berdiri menjulang pula. Cahaya pun kembali terang. Aku mendekatinya lagi. Dan sayangnya pohon kelapa itu kembali roboh ketika kudekati. Sama seperti sebelumnya, setelah itu ada tunas baru lagi yang tumbuh di dekatnya. Kali ini aku membiarkannya. Aku takut tunas itu akan kembali roboh ketika aku dekati,” Kiai Syukri mengakhiri ceritanya dengan hembusan nafas panjang. “Mimpi inilah yang selalu datang dalam tidurku, Kiai. Mimpi-mimpi yang kualami kejadiannya sama persis dengan yang kuceritakan tadi, membuatku jadi merasa musykil,” papar Kiai Syukri meminta pencerahan.
“Cahaya itu adalah fadhol dari Allah untuk Pesantren Futuhiyah. Pohon kelapa yang pertama adalah Kang Zaini Maftuh. Pohon kelapa yang kedua adalah Fatimah, istri Kiai Fatah. Sedangkan pohon kelapa yang ketiga adalah Siti Zainab, istrimu yang baru meninggal itu,” tukas Kiai Sofawi.
“Lalu, tunas kelapa yang keempat itu siapa Kiai?” tanya Kiai Syukri lagi.
“Dia adalah Wardatul Fariha, putri Siti Zainab,” jawab Kiai Sofawi.
“Apa arti dari mimpi ini Kiai?”
“Minumlah dulu airnya, maaf cuma air putih,” pinta Kiai Sofawi. Kiai Syukri pun meminum air putih itu.
“Apakah kamu ingin cahaya pesantren itu bersinar terang kembali?”
“Tentu Kiai. Jika cahaya itu kembali terang maka akan semakin banyak orang yang dapat mereguk anugerah-Nya. Futuhiyah akan semakin diliputi keberkahan.”
“Kālau kamu mau, ikutilah isyaroh dari mimpi itu.”
“Isyaroh apa Kiai?” tanya Kiai Syukri penasaran.
“Dekatilah tunas itu.”
“Jadi, saya harus menunggu mimpi itu datang lagi dalam tidurku, Kiai?” Kiai Syukri tampak bingung. Kiai Sofawi tersenyum.
“Tidak perlu. Tunas itu sekarang ada di alam nyata. Dia ada di sini,” sahut Kiai Sofawi.
Kiai Syukri terdiam memikirkan ucapan adik Kiai Zaini itu.
“Maksudnya apa Kiai?”
“Menikahlah dengan Ning Warda.”
